Minggu, 10 Maret 2019

Bunga Penutup Abad: Apik, Melenakan

Berawal dari postingan seorang teman di Facebook yang mengatakan bahwa Tetralogi Buru akan dipentaskan di teater. Hati langsung deg-degan, kaget campur senang. Aku ingin sekali menontonnya. Ketika itu, keempat novel Pramoedya itu sudah kutamatkan dan aku sangat terpesona dengan kisahnya.
Langsung kucoba mencari tiketnya, tetapi belum ada. Sekian lama menanti, tak ada informasi apa-apa, sampai-sampai aku hampir melupakannya. Suatu hari, tiba-tiba suami tercinta berkata, "Sudah ada ni tiketnya Bunga Penutup Abad. Jadi mau nonton?"
Aku menatapnya beberapa saat, "Kok bisa? Tau dari mana?"
Setelah kupastikan bahwa info itu valid, tanpa ba-bi-bu, aku berkata, "Aku mau nonton. Boleh, Mas?"
Aku bertanya, karena harga tiketnya tidak murah. Dan kalau jadi menonton, berarti kami harus menginap semalam di Jakarta. Biaya tambahan lagi, bukan? Suamiku tersenyum santai sambil menjawab, "Ya ayo, kenapa gak? Mau kelas apa?"
Betapa aku mencintai suamiku ini (gombal :D).

Jadilah tanggal 25 Agustus (2016) kemarin, kami berkencan berdua saja ke Jakarta. Riri kami tinggal semalam bersama babysitter-nya. Tidak apalah sekali-sekali, hehe.
Ekspektasiku sangat tinggi terhadap pertunjukan ini. Novel Pramoedya bukanlah cerita yang mudah diangkat ke pementasan teater. Ceritanya kompleks, penokohannya kuat, nilai-nilai yang ingin disampaikan sangat banyak. Walaupun yang akan bermain adalah aktor/aktris sekaliber Reza Rahardian, Chelsea Islan, Lukman Sardi, dan Happy Salma, tetap saja panggung teater berbeda dengan dunia perfilman.

Pertunjukan diadakan di Gedung Kesenian Jakarta. Karena memang tempat duduknya terbatas, jadi rasanya di lobi gedung tidak begitu padat. Orang-orang masih cukup leluasa lalu-lalang atau berfoto-foto. Ada juga beberapa stand makanan (yang ternyata setelah beli, tidak boleh dibawa ke dalam, hehe).
Sekitar pukul 19.40, pintu gedung dibuka. Aku dan suami mulai masuk. Kami beli tiket VIP jadi tempat duduk cukup di depan, alhamdulillah. Ruangannya bagus dan nyaman, seperti ruang pertunjukan teater kebanyakan, dengan balkon juga. Coba tiket di balkon dijual, mungkin aku akan beli di situ (kaya kebanyakan duit aja, hehe).
Banyak juga artis yang datang menonton. Kami melihat Sherina, Ari Dagienkz (duduk di sebelahku), Marcella Zalianty, dan Tompi (sebagai fotografer). Mungkin ada juga yang lain tapi tidak kelihatan.
Gong dibunyikan sekitar pukul 20.00, sesuai jadwal. Pembawa acara memberikan pembuka yang tidak begitu panjang, berisi apa-apa yang harus dilakukan pengunjung dan sinopsis singkat.
Pertunjukan pun dimulai.

Kerangka cerita yang digunakan ialah surat-surat Panji Darman yang dikirimkan selama menemani Annelies ke Belanda. Seiring datangnya surat demi surat, kisah beralur maju mundur membawa penonton ke masa awal pertemuan Minke dengan Annelies, pernikahan mereka, hingga masalah pengadilan yang merenggut Annelies dari ibu dan suaminya.
Adegan dibuka dengan Minke yang sedang membacakan surat pertama Panji Darman pada Nyai. Annelies telah berangkat, dan tidak lagi mempunyai perhatian pada sekitar. Sakit keras Annelies telah dimulai. Minke dan Nyai pun masih menjadi tahanan rumah, dan keadaan berlanjut sampai beberapa minggu. Minke pun mengingat kembali saat-saat pertama bertemu Annelies. Berkenalan, berbincang, mencium, diperkenalkan dengan Nyai, mencium kembali, dan menjadi akrab.
Setelah status tahanan rumah dihapus, Minke pun berjalan-jalan menemui sahabatnya, Jean Marais, yang sedang mencoba menyelesaikan lukisan Annelies. Mereka mengobrol banyak, dan mungkin tanpa disadari, kata-kata Jean Marais di momen inilah, yang akhirnya menggugah Minke untuk memberi perhatian lebih pada bangsanya, untuk akhirnya menjadi pemikir terdepan dan lidah bagi bangsanya.
Surat Panji Darman datang lagi, Keadaan Annelies masih sama. Panji Darman berusaha memperkenalkan diri, tetapi entah berhasil entah tidak.
Surat Panji Darman lagi. Annelies bertambah sakit. Panji Darman dipanggil ke biliknya oleh perawat dan dokter berwenang, untuk ikut serta merawatnya. Kesempatan yang dipergunakan sebaik-baiknya oleh lelaki ini untuk melaksanakan tugasnya.
Jean Marais datang ke rumah bersama anaknya, May, untuk melukis Nyai. Mereka pun berkenalan, mengobrol banyak. Sering juga digoda oleh Annelies yang bertanya, "Kapan aku diberi adik?", disambung pula candaan dari Minke. Pada adegan ini, digambarkan betapa mereka berbahagia, mereka sangat berbahagia. Bercengkerama, bercanda, menyanyi, menari. Tidak ada yang menyangka kebahagiaan itu akan sirna dengan cepat.
Surat Panji Darman lagi. Annelies hampir tidak bergerak. Sekali ia tampak sadar dan berbicara, ialah untuk mengatakan, "Jadilah kau teman bagi suamiku."
Suatu hari, tanpa diduga, datang seseorang bernama Ir. Maurits Mellema ke Wonokromo untuk bertemu dengan Tn. Herman Mellema, ayah Annelies. Nyai pun menguping pembicaraan mereka. Tak disangka, ternyata sang tamu ialah anak Tn. Herman Mellema dari istri sahnya di Belanda. Ia datang untuk meminta jatah dari harta perusahaan Wonokromo. Nyai yang marah besar mengusirnya dari rumah. Tentu sebagai wanita yang berpendidikan, Nyai meminta suaminya untuk melegalkan pernikahan mereka di Kantor Catatan Sipil. Tapi Tn. Herman Mellema tidak mau, tanpa alasan, marah untuk pertama kalinya dalam rumah tangga mereka, lalu pergi meninggalkan rumah. Setelah itu, hubungan Nyai dan suaminya menjadi dingin. Tn. Herman Mellema jarang pulang, dan tenyata diketahui bahwa ia menghabiskan hidupnya di tempat pelacuran. Tempat yang sama dimana ia ditemukan meninggal, terbunuh. Inilah awal dari semua permasalah berat yang akan terjadi.
Ir. Maurits Mellema meminta hak harta warisannya, dengan hanya mengikutsertakan Annelies dan kakaknya. Nyai tidak dianggap, hanya karena ia pribumi. Padahal Nyailah yang mengurus perusahan besar itu sendirian selama 20 tahun. Tidak dianggap sama sekali, hanya karena ia pribumi.
Minke pun sama, tidak ada nilainya di mata hukum Belanda. Pernikahannya dengan Annelies yang sah secara Islam pun tidak diakui. Hanya Belanda yang dianggap ada oleh Belanda. Sungguh kejam.
Surat Panji Darman lagi. Mereka telah sampai di Belanda. Yang menjemput Annelies adalah seorang nenek tua, bayaran Amelia Mellema, tidak ada keluarga Mellema yang menjemput. Kasihan.
Akhirnya Annelies dipanggil ke pengadilan putih. Hanya untuk diberitahu bahwa ia dianggap tidak punya ibu, tidak punya suami. Walinya ialah Ir. Maurits Mellema. Jadi, sebelum Annelies cukup umur menurut hukum untuk dapat mengelola harta warisan ayahnya, ia akan berangkat ke Belanda untuk berada di bawah pengawasan walinya, sampai cukup umurnya. Guncangan yang sangat besar bagi keluarga Wonokromo, terutama untuk jiwa Annelies yang rapuh. Perempuan rupawan ini jatuh sakit, jiwanya terguncang, ia tidak ingin sadar dan tidak ingin menyadari masalah di hadapannya.
Surat Panji Darman lagi. Ia mencoba mengkonfrontasi Amelia Mellema, tapi tidak berguna. Annelies sudah tidak bergerak, tidak bisa makan ataupun minum. Panji Darman amat khawatir akan keadaannya.
Menjelang keberangkatannya, Annelies meminta kopor tua milik ibunya. Ia akan berangkat ke Belanda hanya dengan kopor kulit tua itu, dan kain batikan Bunda, mertuanya tersayang. Annelies sadar ia pergi bukan untuk kembali. Ia akan pergi dari Wonokromo untuk selama-lamanya. Ia melangkah keluar rumah diiringi tangis dan ratapan ibu dan suaminya yang tidak berdaya membelanya, tidak mampu melawan kesewenang-wenangan Belanda yang tidak manusiawi.
Surat Panji Darman. Membawa berita buruk. Berita kematian Annelies.

Sebuah pertunjukan yang luar biasa. Hampir tanpa cela.
Akting semua pemainnya bagus sekali, sangat berkualitas, kecuali pemeran May karena mungkin dia memang masih anak-anak.
Reza, Happy, Chelsea, Lukman, semuanya luar biasa. Ekspresinya tepat, permainan nada dan penekanan kalimat, gesture dan olah tubuh, interaksi antar pemain, emosi, semua ditampilkan dengan sangat baik. Mereka mampu menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel dengan sangat apik.
Aku, yang sudah berekspektasi tinggi ini, sama sekali tidak kecewa. Tidak sedikitpun.
Minke, ya seperti yang diperankan Reza Rahardian itulah Minke yang kubayangkan ketika membaca Tetralogi Buru. Gaya berjalannya, posturnya, bahkan keragu-raguannya jika berdiskusi dengan Nyai.
Annelies, ya seperti Chelsea Islan lah mungkin kecantikannya bisa digambarkan. Kalimat-kalimat dari mulutnya selalu lembut, agak terbata, manja, ceria, sekaligus rapuh.
Jean Marais, posturnya bisa digambarkan seperti Lukman Sardi, logat berbicaranya juga. Hanya ada satu yang menggangguku dari Lukman, yaitu suaranya yang kadang kurang keras, jadi tidak terdengar.
Lalu Nyai Ontosoroh, yang diperankan Happy Salma. Luar biasa, dari adegan pertama Happy duduk bersandingan dengan Reza, hanya dari postur tubuh dan ekspresi wajahnya, aku yakin dalam hati bahwa inilah Nyai Ontosoroh jika memang ada di dunia ini. Akting Happy menurutku adalah yang paling apik dari semuanya. Dia adalah satu paket keseluruhan dari Nyai Ontosoroh. Gaya berjalan, nada dan penekanan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh, semuanya baik sekali. Beberapa kali memang Happy kutangkap salah mengucapkan dialog. Hampir tidak kentara karena dia menutupinya dengan sangat baik (suamiku juga tidak menyadari), dan kesalahan-kesalahan kecil itu jadi tidak berarti setelah melihat keseluruhan aktingnya.
Dari segi setting tempat, pencahayaan, bahkan musik (musiknya orkestra asli, lho), semuanya baik dan saling mendukung. Properti juga cukup bagus dan menggambarkan keadaan latar (tempat yang dipilih adalah rumah Wonokromo). Dari segi kostum juga sangat mendukung jalannya cerita. Ada proyektor juga yang menyorotkan gambar-gambar bunga atau foto Annelies ke dinding properti, sehingga tidak terlihat kosong dan mendukung suasana.
Kesimpulannya, semua orang yang terlibat dalam pementasan ini telah melakukan tugas mereka masing-masing dengan sangat baik dan profesional.
Harga tiket yang tidak murah, ditambah pengorbanan untuk datang dan menginap di Jakarta, atau pengorbanan-pengorbanan penonton lain yang mungkin lebih besar dari kami, semua sepadan dengan hasilnya. Apa yang kami saksikan dan nikmati malam itu, sangat memuaskan jiwa dan membuat kami (terutama aku) bahagia.

Semoga akan dibuat lagi pertunjukan serupa dari novel Pramoedya lain, atau dari karya penulis lain. Pertunjukan serupa dengan kualitas yang sama. Jika saja ada lebih banyak pementasan seni seperti ini di seluruh penjuru Indonesia, dan lebih banyak orang yang berminat menontonnya, mungkin bangsa ini akan lebih dapat mengingat budayanya sendiri dan menjadi lebih beradab. Mungkin bangsa ini akan menjadi lebih baik. :)

Bagikan

Jangan lewatkan

Bunga Penutup Abad: Apik, Melenakan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.