Sabtu, 09 Maret 2019

Berkembang Bersamamu

Beberapa hari yang lalu, saya bercengkerama santai bersama suami, membicarakan hal-hal remeh yang menyenangkan. Tiba-tiba dia berkata, "Alhamdulillah kita bisa seperti ini sekarang, gak nyangka ya, kita bisa bertumbuh bersama."
Aku tersenyum menanggapinya.

Saya mengenal suami saya ketika kami masih kelas X (kelas 1 SMA). Bermula dari kegiatan kemah pramuka, lalu kami satu organisasi di OSIS dan Dewan Ambalan. Dia mulai mendekati saya dan kami berpacaran (sembunyi-sembunyi, hahaha..) sejak kelas XI. Hubungan kami yang hampir berakhir menjelang kuliah, ternyata bisa berlanjut. Saya kuliah di Jakarta dan dia di Bandung. Kami menjalani hubungan jarak jauh selama 5 tahun sebelum akhirnya menikah menjelang hubungan kami berulang tahun ketujuh.

Sekian lama kami bersama, sekian lama kami belajar saling mengenal dan memahami. Dan sungguh, kami telah merubah satu sama lain. Jika ada yang mengatakan bahwa mengubah orang itu hal yang mustahil, maka saya bisa bilang bahwa itu salah. Mengubah sifat seseorang bukanlah hal yang tidak mungkin, hanya sangat sulit dilakukan karena dibutuhkan usaha keras dari kedua belah pihak. Saya adalah buktinya, kami adalah buktinya.

Saya menjadi orang yang lebih baik bersamanya.
Mungkin terdengar klise, tapi ini kenyataan. Dan tentu saja saya bisa mengatakan ini setelah berubah, saya bisa mengatakannya sekarang saat melihat ke belakang. Dulu saya memiliki emosi yang tinggi, keras kepala, dan banyak sifat buruk lainnya. Suami mengajari saya untuk sabar, menjadi lebih pemaaf, dan banyak sifat lain yang dia ajarkan. Apakah saya seorang murid yang patuh? Tentu tidak, saya pembangkang. Lalu bagaimana suami bisa mengubah saya? Karena dia memulai semuanya dengan mencintai saya. Hatinya menyentuh hati saya. Saya tidak tahu kenapa dia memilih saya, tetapi ketika saya menyadari bahwa ada orang yang sudah menunjukkan ketulusan, saya pun meneladaninya.

Suami pun bukan orang yang sempurna, bisa dibilang kami sangat bertolak belakang. Mungkin justru karena itulah Yang Di Atas mendekatkan kami. Agar kami saling belajar, agar kami menjadi lebih baik. Berkali-kali suami bilang bahwa tidak ada orang yang sempurna. Saya pun mulai belajar menerima dia dengan berbagai kekurangannya, Suami tentu sudah sejak awal melakukannya. Dan ternyata karena kami saling mencintai, kami mulai saling mengoreksi, mulai saling mengubah, agar satu sama lain menjadi lebih nyaman. Agar kami sama-sama bisa saling membahagiakan.

Cinta itu menyakitkan.
Cinta itu menyembuhkan.
Tentu karena dunia selalu diwarnai hitam dan putih, saling bersanding.
Kami dua orang yang berbeda, diberkahi dengan waktu untuk bersama, waktu untuk bergandengan tangan menyambut masa depan.
Jadi, mengutip kalimat dari Tulus, "Jangan cintai aku apa adanya..."
Karena aku ingin terus berkembang bersamamu, jadikan aku manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi...

Bagikan

Jangan lewatkan

Berkembang Bersamamu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.