Kamis, 29 Maret 2018

Cahaya Syukurku

Cahaya Syukurku

Sekitar dua minggu yang lalu, masa sekolah saya akhirnya jatuh ke titik yang rendah. Cukup rendah sehingga saya merasa depresi, putus asa.

Waktu itu saya harus menyelesaikan dua tugas besar dalam waktu yang hampir bersamaan, tugas besar yang sulit. Saya harus maju presentasi kasus dan beberapa hari setelahnya harus mengumpulkan abstrak case series untuk salah satu kegiatan simposium nasional. Sudah berhari-hari saya kurang tidur menyelesaikan naskah-naskah itu dan mungkin diperparah dengan saya yang tetap saja ingin memberikan yang terbaik alias perfeksionis. Saya tetap ingin sebisa mungkin hasilnya sesuai dengan 'standar saya'.

Namun, bukan kesedihan atau penderitaan yang ingin saya ceritakan disini. Saya justru ingin bercerita bahwa di balik semua itu, ada peristiwa yang membuat saya sangat mensyukuri kemurahan Allah.

Di suatu malam sekitar pukul setengah tiga pagi, saya yang depresi karena naskah kasus belum fix sedangkan tiga hari lagi harus melakukan presentasi, rebahan di samping anak saya yang tertidur. Riri-anak perempuan saya yang belum genap empat tahun- sudah beberapa kali bangun malam itu, mungkin karena merasa bahwa bundanya tidak ada di sampingnya. Setiap terbangun, dia tidak menangis, hanya memanggil saya untuk menemaninya tidur lagi.

Ketika saya sedang menerawang sambil menangis diam karena sedih dan lelah, Riri terbangun lagi. Dia melihat saya kemudian berkata, "Bunda kenapa?"
Saya diam saja dan tetap menangis. Saya betul-betul merasa lelah dini hari itu, entah mengapa.
Riri lalu berkata lagi, "Bunda jangan sedih ya, jangan nangis lagi, nanti ayah pulang terus obatin bunda. Sini dedek peluk dulu,"
Ia lalu memeluk saya dengan erat walaupun saya yakin ia tidak mengerti permasalahannya sama sekali. Subhanallah, saya tidak bisa berkata-kata, hanya bisa mencium dan memeluknya dengan penuh rasa syukur. Rasanya hangat sekali hati ini. Betapa saya sangat mensyukuri pertolongan Allah malam itu.

Allah telah memberikan pada saya banyak sekali nikmat.  Bagi seorang residen perempuan seperti saya, banyak tantangan yang harus dihadapi semasa sekolah, salah satunya adalah soal anak. Namun, Allah telah menjaga anak saya dengan sebaik-baik penjagaan-Nya. Allah jadikan ia anak yang solehah, sehat, dan bisa mengerti (entah bagaimana) tentang rutinitas saya.

Sejak saya mulai sekolah, Riri selalu bangun ketika saya bangun, untuk pindah tidur bersama babysitter-nya. Ketika saya sudah tidak kuat menggendongnya, dia harus berjalan sendiri. Betapa hebatnya ia, karena ia hampir tidak pernah menangis. Mau saya bangunkan jam setengah 5, jam 4, bahkan pernah setengah 4 karena saya harus berangkat sangat awal. Riri tidak sulit dibangunkan, tidak merengek, dan bisa diberi pengertian. Jika saya mendapat tugas jaga dan saya menelponnya dari rumah sakit, ia juga tidak menangis atau merengek. Jika saya pulang kerja, ia akan menyambut saya dengan berlari memeluk saya.

Dan setelah segala kemurahan yang Ia berikan, malam itu saya menyesal karena telah 'lemah'. Mungkin saya memang stres dan lelah secara fisik, tapi sejatinya Ririlah yang seharusnya paling menderita karena keputusan saya bersekolah. Ia yang kehilangan banyak hak atas waktunya bersama saya dan ayahnya (yang bekerja di lain kota). Dan sebagai orang yang seharusnya paling dirugikan, ia malah bisa menyemangati dan menenangkan saya dengan caranya sendiri. Seketika pula saya menjadi malu, malu pada-Nya karena telah 'lupa' pada kemudahan yang selalu diberikan. Di balik segala kesulitan selalu ada kemudahan.

Riri adalah cahaya saya, cahaya hati kami. Terima kasih karena selalu menjadi penenang dan penyemangat Bunda. Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam penjagaan-Nya yang terbaik.
Baca selengkapnya