Jumat, 15 April 2016

Kebahagiaan

Hidup ini dinamis, tidak stagnan, tidak statis.
Tidak hanya perputaran waktunya, tapi juga perubahan diri kita.
Sifat, sikap, watak, karakter, itu semua juga harus berubah seiring berjalannya waktu.
Kenapa aku bilang harus?
Karena kita berhubungan dengan orang lain. Kita tidak bisa hidup sendirian dan akan selalu bersinggungan dengan manusia lain, meskipun kita tak ingin.
Penilaian, persepsi, dan ekspektasi dari orang-orang lain itulah yang mengharuskan kita untuk berubah.
Apakah menjadi lebih baik? Atau semata hanya untuk mengikuti keinginan mereka?
Aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
Semua memang harus dilakukan demi bertahan hidup, suka atau tidak, nyaman atau tidak,

Jika kita berkata, ''Tuhan memang menciptakanku untuk menjadi seperti ini. Sifat dan karakterku memang seperti ini," maka orang-orang lain itu akan dengan semangat menjawab, "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Itu artinya kau malas berubah, tidak mau menerima kritik, dan tidak mau menjadi lebih baik."
Benarkah?
Menjadi lebih baik? Menurut standar dan kacamata siapa? Kalian? 
Tidakkah itu artinya mereka hanya ingin kita menjadi seperti yang mereka inginkan?
Lalu bisakah kita menolak atau lari dari situasi ini? Mungkin tidak, karena kembali lagi, kita bergantung pada orang lain. Kelangsungan hidup kita ditentukan dengan adanya keberadaan orang lain di sekitar kita.
Suka atau tidak, nyaman atau tidak.

Mungkin ada beberapa orang beruntung yang bisa lari dari segala tetek bengek 'penyesuaian dengan orang lain' ini. Mereka bisa lari, berpindah tempat tinggal, dan menjadi diri mereka sendiri.
Ingat novel atau film Perahu Kertas? 
Seperti Keenan, ya, seperti itulah maksudku. 
Apakah memang hidup sebagai pelukis begitu hina dan rendah? Ternyata tidak, dan Keenan ternyata malah sangat bahagia mengikuti suara hatinya. Namun, orang tuanya tidak tahu itu, mereka tidak mau mengerti.

Sayangnya, masih banyak orang lain yang tidak bisa seberuntung itu. Seperti kita mungkin, yang masih terjebak dalam rutinitas dan terbelenggu kata 'harus' dari orang lain.
Hidup harus kerja keras, kalau kamu tidak jadi pekerja, kamu mau makan apa?
Belajar itu harus rajin, pendidikan harus tinggi, setinggi-tingginya, kalau bisa sampai menjadi profesor di luar negeri.
Apakah memang semua itu menjamin kebahagiaan?
Sebenarnya apa esensi kita hidup di dunia, jika terus mengejar dan melakukan sesuatu yang tidak membuat kita bahagia?

Namun, kembali lagi, sayang.
Tidak semua orang beruntung bisa lari dari kenyataan dan mengejar impiannya, mengejar kebahagiaannya.
Sementara mereka-mereka ini menyibukkan diri dengan impian dan standar orang lain.
Mereka, bukan, kita, sibuk membahagiakan orang lain dan lupa dengan kebahagiaan diri kita sendiri.

Bagikan

Jangan lewatkan

Kebahagiaan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.