Kamis, 26 November 2015

Dari Adonan Biang Sampai ke Terangnya Pikiran

Aku suka menulis.
Aku rasa semua juga tahu itu.
Namun, tidak banyak postingan tentang diri sendiri, atau pemikiranku, dalam blog ini.
Ada alasannya mengapa aku membatasi diri seperti ini.

Sebut aku terlalu banyak berpikir, atau khawatir.
Aku sebenarnya tidak begitu suka masalah dan kehidupan pribadiku diketahui orang banyak karena pasti akan memicu banyak komentar. Aku tidak suka. Aku tidak suka dikomentari (bukan tidak suka dikritik). Komentar tidak ada dasarnya selain pemikiran dan pendapat pribadi orang yang melontarkannya. Komentar tidak akan mengubah kehidupanku, tetapi bisa mempengaruhi pikiranku jika bernada negatif. Ya, intinya aku suka hidup tenang saja, lempeng-lempeng tanpa invasi dari orang lain, bahkan secuil pemikiran mereka.

Kemudian aku juga tidak mau banyak orang meng-copy dan mem-paste hal-hal yang tidak seharusnya. Postingan-postingan tentang kesehatan yang banyak aku tulis memang aku tujukan untuk berbagi ilmu, jadi sah-sah saja digandakan. Namun, jika ada yang melakukan itu pada tulisan pribadiku, atau puisiku, atau pemikiranku (meskipun dalam konteks baik), aku tidak nyaman rasanya. Aku tahu aktivitas di dunia maya ini adalah aktivitas publik. Aku sadar betul bahwa bisa atau tidaknya copy-paste ini terjadi, sepenuhnya kewenanganku. Jika aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak usah memberikan postingan apa-apa. Betul, kan? Simpel, aku tahu, dan aku sudah melakukannya selama ini.

Rencana cadanganku untuk menulis (waktu itu) ialah aku (niatnya) akan kembali aktif menulis di buku harianku. Ya, buku harian. Aku punya buku harian yang sudah mulai kuisi sejak kelas satu SMP, dan kupelihara dengan baik sejak itu. Kegiatan ini terhenti sejak aku memasuki dunia per-koas-an, yang dapat dimaklumi karena saat itu, tidur saja susah, makan apalagi (sambil lari-lari). Waktu luang yang dipunyai selama dua tahun menjadi 'dek koas' itu, jika digabungkan, mungkin masih kurang untuk memenuhi waktu yang dibutuhkan untuk membaca seluruh textbook, buku penunjang, dan ilmu yang seharusnya kumiliki. (Hehehe..)
Sayangnya, rencana indahku untuk melestarikan buku harian setelah masa-masa itu juga ternyata tidak dapat terwujud. Setelah kuliah, langsung menikah. Setelah itu langsung intership dan dimasa itu hamil dan melahirkan. Setelah itu, hari-hari makin full diisi dengan kegiatan bersama Riri-nama anakku.
Selain sulit mencari momennya, lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menulis buku harian juga merupakan masalah. Bagi yang belum pernah melakukan, menulis buku harian dilakukan dengan tangan. Tangan cenderung lebih lambat dari jalannya pikiran. Tangan juga jelas lebih lambat dari kemampuan jari mengetik di atas keyboard, apalagi jika sudah biasa mengetik dengan sepuluh jari. Mengetik bisa menyalurkan pikiran dua hingga tiga kali lebih cepat dari tulisan tangan. Itu semua menurut pengalamanku.
Jadi, untuk menulis buku harian saja, dalam keadaanku yang sekarang, aku sudah merasa lelah dan banyak membuang waktu. Mengetik jauh lebih efektif.

Begitulah dilemaku selama ini.
Aku punya alasan untuk tidak menulis di blog.
Tapi aku tidak melakukan apa yang harusnya kulakukan untuk tetap menulis, sesuai rencana awalku.
Jadilah kondisi stuck selama berbulan-bulan karena konflik di dalam diriku ini tidak kunjung menemukan solusi.
Hingga malam ini.

Aku sedang membaca novel Madre, karya Dee yang terkenal.
Ternyata pergulatan tentang toko roti dan adonan biangnya membawaku pada jawaban yang selama ini kucari.
Sederhana.
Segala hal harus punya penerus. Seseorang harus punya 'sesuatu' untuk bisa diwariskan. Adonan saja memiliki sejarah panjang, yang ternyata sangat patut dilestarikan dari generasi ke generasi.
Lalu aku?
Mengapa aku yang (merasa) memiliki kemampuan untuk melestarikan sejarahku sendiri, dengan menulis, malah mandeg? Berhenti karena alasan yang, memang logis, tapi apakah relevan?
Apakah aku harus membiarkan potensi-potensi cerita dalam keseharianku, entah penting atau tidak (bagi orang lain, bagiku pasti penting karena kutulis) menguap begitu saja? Hanya karena tidak suka dikomentari, tidak suka bersinggungan dan berkonflik dengan orang lain, tidak ingin tulisanku digandakan dan/atau dibagi tanpa izin, dan masih banyak alasan-alasan ringan lainnya?
Apakah sepadan?

Para penulis ternama juga memiliki blog pribadi dan media sosial lain. Mereka nampak bebas menulis apa saja.
Mungkin apa yang aku takutkan juga terjadi pada mereka. Mungkin banyak kejadian copy-meng-copy, dan berbagai masalah lainnya.
Setiap melakukan sesuatu, pasti ada risikonya. Semakin besar hal yang dilakukan, semakin besar penghalangnya. Itu sudah hukum alam.
Namun, jika bisa mengatasi hambatan-hambatan itu, bukankah hasilnya sudah jelas?
Mereka telah berhasil mendokumentasikan sejarah, pemikiran, dan ide mereka.
Itu semua sangat berharga.
Dan, sekali lagi, apakah sepadan dengan risikonya?

Sekarang aku bisa menjawab dengan pasti.
Sepadan!

Bagikan

Jangan lewatkan

Dari Adonan Biang Sampai ke Terangnya Pikiran
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.