Jumat, 08 Mei 2015

Diagnosis Multiaksial

Berikut adalah contoh perumusan dan penulisan diagnosis multiaksial untuk pasien dengan gangguan kejiwaan (berdasarkan kasus).

I.                  FORMULASI DIAGNOSIS
     Gangguan jiwa merupakan suatu kelompok gejala perilaku yang secara klinis bermakna dan yang disertai dengan penderitaan (distress) dan yang berkaitan dengan terganggunya fungsi (hendaya) seseorang. Dalam kasus ini, pasien  mengalami gangguan berupa halusinasi auditorik, halusinasi visual, delusion of control, dan waham rujukan.
     Untuk memastikan diagnosis gangguan jiwa, diperlukan wawancara yang baik untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai gejala yang bermakna, jangka waktu, awitan, episode, dan perjalanan penyakitnya. Selain itu, penegakan diagnosis juga harus dilakukan berdasarkan hirarki dari F0 hingga F5.
     F0, gangguan mental organik, merupakan gangguan mental yang yang disebabkan penyakit primer di otak atau penyakit sekunder di luar otak yang menyebabkan disfungsi otak. Dari anamnesis dan rekam medis pasien, tidak ditemukan adanya riwayat penyakit yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Tidak ada riwayat trauma kepala, kejang, atau penyakit berat lainnya yang mungkin menyebabkan disfungsi otak. Dengan demikian, diagnosis F0 dapat disingkirkan.
     Dari anamnesis, pasien mengatakan tidak pernah mengonsumsi zat psikoaktif dan alkohol. Oleh sebab itu, diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif (F1) dapat disingkirkan.
     Berdasarkan hasil anamnesis, didapatkan gejala-gejala psikotik yang cukup jelas. Pasien mengatakan ia sering mendengar suara-suara yang memerintah dan mengomentarinya (halusinasi auditorik). Pasien juga melihat bayangan hitam dan putih (halusinasi visual). Selain itu, pasien yakin bahwa dirinya dikendalikan oleh roh Ahmad Yani (delusion of control) dan yakin bahwa orang-orang di sekitarnya membicarakan dirinya (waham rujukan). Gejala yang dialami pasien sudah memenuhi kriteria diagnosis Skizofrenia Paranoid sehingga diagnosis tersebut sudah dapat ditegakkan (F20.0).    
Diagnosis Aksis II
Dari anamnesis, didapatkan bahwa kepribadian pasien memenuhi kriteria diagnosis gangguan kepribadian cemas menghindar berdasarkan DSM-IV-TR. Pasien tidak bekerja karena takut dikritik oleh atasannya serta merasa tidak mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Dalam situasi sosial, pasien juga selalu berpikir bahwa ia akan dikritik sehingga tidak terlalu banyak bersosialisasi. Ia juga hanya memiliki sedikit teman yang mungkin cocok dengannya. 
Diagnosis Aksis III
Berdasarkan anamnesis, dan rekam medik, tidak ditemukan adanya gangguan medis umum. 
Diagnosis Aksis IV
Aksis IV untuk masalah psikososial dan lingkungan yang mungkin dapat mencetuskan atau memperburuk aksis I pasien ialah:
1.     Pasien tidak bekerja
2.     Ayahnya yang memiliki istri kedua 
Diagnosis Aksis V
Aksis V menilai fungsi secara menyeluruh, baik dalam psikologi, sosial, dan okupasi, yang dinilai dengan GAF (Global Assesment of Functioning). GAF saat pemeriksaan 51-60, yaitu gejala sedang dan disabilitas sedang. Highest Level Past Year pasien ini adalah 65.

II.               EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I.  F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II. F60.6 Gangguan Kepribadian Cemas Menghindar
Aksis III. -
Aksis IV. Pasien tidak bekerja
               Ayah memiliki istri kedua
Aksis V.  Current: GAF 51-60

               Highest Level Past Year: GAF 65

Bagikan

Jangan lewatkan

Diagnosis Multiaksial
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.