Jumat, 13 Juni 2014

Studi Kasus: Perilaku Seks Remaja di Sebuah Kota Kecil (2)

Studi Kasus: Perilaku Seks Remaja di Sebuah Kota Kecil (2)

Ada apa dengan perilaku seksual saat ini?
Menikah terlalu muda, hamil terlalu muda, melahirkan dan membuang bayi saat muda, seks dilakukan di usia terlalu muda, terserang penyakit berbahaya di waktu muda.
Jika perilaku berbahaya itu dilakukan adik-adik di usia muda mereka, lalu apa yang akan terjadi di usia produktif dan usia tua mereka? Tinggal menanggung akibatnya dan mereka tidak bisa melakukan hal-hal lain yang produktif dan menyenangkan. Mayoritas begitu.
Terlepas dari kasus-kasus predator seks yang ramai di media, adik-adik ini melakukannya sendiri dalam keadaan sadar.
Mereka mau, dan mungkin mereka memang suka sama suka. Namun, mengapa kemauan dan alasan suka sama suka itu tidak bisa dikendalikan? Bukankah harusnya ada nilai moral dan agama di benak mereka yang mencegah ketika sudah berada di ambang pintu maksiat itu?
Saya bukanlah ahli psikologi, apalagi psikologi anak dan remaja. Saya tidak tahu apa yang ada di kepala mereka. Namun, setiap manusia diberi akal, diberi kewajiban dan kebebasan menuntut ilmu agar bisa mengerti. Bahwa setiap tindakan ada risikonya. Bahwa setiap aksi ada reaksi. Dan semua keputusan yang diambil harus dipertimbangkan masak-masak dulu agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

Ilustrasi

Pada kasus adik-adik muda yang sudah menikah dan melahirkan di bawah 20 tahun, apakah dalam hati tidak pernah berontak? Mereka pasti masih ingin sekolah, masih waktunya bermain dan bercengkerama bersama teman-teman. Bukannya menjalani kehamilan yang melelahkan, proses melahirkan yang menyakitkan, dan mengasuh anak yang merepotkan. Mereka tidak tahu bahwa mereka menghadapkan diri pada bahaya. Mereka rentan perdarahan, partus macet, dan yang paling sering adalah tidak kuat mengejan sehingga harus dibantu dengan vakum atau bahkan forceps. Kalau sudah begitu siapa yang paling menderita? Bukan mereka, bukan suami mereka, tapi anak yang mereka lahirkan. Para ibu muda cenderung masih acuh, masih tidak tahu, dan takut-takut karena secara mental mereka belum siap. Oleh karena itu, kasus pneumonia aspirasi seperti di atas sangat sering terjadi. Dan itu bukan kasus enteng, bayi mereka bisa henti napas sewaktu-waktu, menderita berkepanjangan karena oksigen di tubuh yang kurang. Apapun yang para bayi itu jalani, ujung-ujungnya hanya ada satu akibat: berkurangnya potensi otak mereka untuk berkembang di kemudian hari. Dengan forceps, vakum, pnemonia, atau penyakit apapun, aliran oksigen ke otak bisa berkurang, dan bagi bayi, itu bukanlah hal sepele. Kasian mereka, yang mungkin harusnya bisa berkembang 100% menjadi hanya 90% atau bahkan lebih rendah lagi.

Saya tidak menyalahkan jika terjadi penyakit-penyakit seperti itu karena memang itu adalah cobaan dari Allah. Namun, sebagai ibu, sebagai orang tua, kita tetap harus berusaha yang terbaik untuk anak-anak, kan? Jika kita sudah berusaha sebaik mungkin tapi tetap terjadi kejang pada anak kita misalnya, itu namanya cobaan. Tapi jika kita berusaha pun tidak, santai-santai, bahkan dengan sengaja melakukan hal yang merisikokan anak kita, itu namanya kebodohan dan kesengajaan. Sudah tahu bahwa kita belum tahu, tapi tidak mau belajar dan hanya acuh. Itulah yang saya lihat dari para adik-adik menikah dan hamil muda ini. Kalian punya pilihan, bukan, dik? Lalu mengapa pilihan itu yang kalian ambil? Kalau kalian tidak bisa berpikir panjang ke masa depan, itu artinya memang kalian belum mampu, maka ambillah waktu lagi untuk belajar sampai kalian mampu. Bukannya malah pasrah dengan kebodohan itu dan nurut saja dengan, mungkin, orang tua yang menikahkan kalian yang, mungkin maaf, sama bodohnya. Karena kalau terjadi apapun dengan anak kalian, baik di waktu lahir, tumbuh kembang, ataupun di masa depannya, kalian yang akan bertanggung jawab, bukan orang lain.

Untuk kasus para remaja yang hamil di luar nikah, yah, memang sudah jelas mereka yang patut disalahkan. Selain para penyumbang spermanya. Tidak ada pertimbangan lain. Mereka yang salah. Saya perempuan, saya tahu susahnya menjaga diri dan kehormatan. Namun, jika ada segelintir bahkan jika tersisa satu orang saja di dunia ini yang bisa melakukannya, lalu kenapa kalian tidak bisa, dik? Itu adalah pilihan. Kalian memilih yang salah. Kalian memilih kalah. Atau mungkin kalian sengaja salah. 

Untuk para laki-laki, saya tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak mengerti pemikiran mereka (yang remaja perempuan saja saya tidak mengerti, apalagi laki-laki). Namun, yang saya dengar, bahwa kaum lelaki adalah kaum yang pandai berlogika, mahir mengesampingkan ego, dan mengkalkulasikan keadaan. Maka hitunglah rasio baik-buruk dalam setiap tindakan kalian. Kalian pikir main seks sekali-dua kali mungkin tidak ada efeknya. Namun, jika berkali-kali dan kalian dengan sengaja menularkan diri kalian dengan gonore, sifilis, dan HIV? Kalian memang tidak bisa hamil, beban sosial dan hukuman norma kalian mungkin lebih ringan. Tidak akan ada tetangga yang mencibir karena kalian hamil di luar nikah karena kalianlah yang menghamili dan pandai pula bersilat lidah. Tetapi, badan kalian tidak akan bisa berbohong tentang penyakit yang kalian derita. Penderitaan kalian sejatinya lebih berat dan lebih melelahkan dibandingkan korban kalian, para perempuan. Apalagi jika terkena HIV. Sama saja kalian bunuh diri. Walaupun sudah ditemukan ARV sekarang yang bisa mencegahnya menjadi AIDS, saya menjamin itu tidak akan berpengaruh ke kalian. Mengapa? Karena konsumsi ARV itu seumur hidup. Ya, seumur hidup. Butuh kedisiplinan dan dedikasi tinggi, apalagi menghadapi berbagai efek samping obatnya. Lah, menahan nafsu saja tidak bisa, memikirkan masa depan saja tidak bisa, kalian maunya senang-senang saja, apalagi disuruh disiplin seumur hidup. 

Sedih, saya sedih mendapati kenyataan seperti ini. Dan yang membuat saya lebih sedih lagi, adalah fenomena ini terjadi di sebuah kota kecil, Boyolali, yang notabene penduduknya agamis dan menjunjung tinggi kekeluargaan. Wahai para orang tua yang rajin pengajian, rajin menabung untuk haji dan umroh (lebih dari satu kali), rajin menolong orang lain (rewang pernikahan, aqiqah, dll), rajin membaca Alquran dan solat di masjid, rajin sedekah, mengapa justru kalian biarkan amanah terbesar Allah kepada kalian hancur seperti itu? Apakah lebih penting pendapat orang tentang kalian rajin ke masjid dan rajin mengaji dibandingkan mengurus anak-anak kalian, memikirkan pendidikan mereka, menjaga pergaulan mereka? Apakah cukup dengan berpasrah dan "Allah sing bakal njogo anakku" itu melegalkan keacuhan kalian?

Semoga ada pemecahan di balik permasalahan-permasalahan ini dan keadaan generasi mendatang menjadi lebih baik.
Baca selengkapnya

Kamis, 12 Juni 2014

Studi Kasus: Perilaku Seks Remaja di Sebuah Kota Kecil (1)

Studi Kasus: Perilaku Seks Remaja di Sebuah Kota Kecil (1)



Menjadi dokter internsip di IGD sebuah RSUD yang cukup ramai membuat saya menemui berbagai macam pasien. Namun, bukan tipe kepribadian pasien yang ingin saya bahas disini, tetapi mengenai kasusnya dan juga aspek sosial yang terkait.

Ilustrasi

Dalam satu shift jaga, pernah saya mendapatkan dua orang ibu datang ke IGD. Satu orang berusia 17 tahun karena akan melahirkan, satu orang lagi 20 tahun dengan bayinya yang menderita Pnemonia Aspirasi (setelah tersedak ASI, tetapi mengakunya belakangan).
Di shift lainnya, seorang perempuan 19 tahun datang dengan nyeri perut yang awalnya kami kira karena ISK (infeksi saluran kemih), tetapi ternyata dia telat mens 1 bulan, jadi kami dd/ (differensial diagnosis/ diagnosis banding) dengan KET. Perlu diketahui, yang datang ini adalah nona. Ternyata hasil tes kehamilan benar positif, dan dari USG, usia kandungannya sudah 14 minggu, janin sudah terbentuk. Memang nyeri perutnya berarti kemungkinan besar karena ISK, tetapi pasien berbohong mengenai telat mens 1 bulan, karena minimal dia sudah telat mens 3 bulan. Dan pasien ini baru akan menikah setelah lebaran (kalau diasumsikan benar-benar setelah lebaran, berarti masih sekitar 2 bulan lagi).
Masih di shift yang sama, datang pasien lagi dengan abortus iminens (ancaman abortus). Kali ini dia berusia 17 tahun dan memang mengaku hamil, ibu yang mengantarnya juga mengakui anaknya hamil. Tak ada kecurigaan apapun mengenai status pasien ini. Akan tetapi, tanpa sengaja, ketika bertanya pada adiknya sudah berapa lama pasien menikah, adiknya menjawab, "Kakak saya belum menikah, kok." (?) Lalu, sudah punya pacar, kah? Si adik menjawab lagi, "Sudah, tapi pacarnya di luar pulau. Belum jelas juga rencana menikahnya kapan." (?) Lalu, mengapa ibunya bisa mendeklarasikan dengan santai bahwa anaknya hamil? Wallahu'alam. 
Di lain shift, datanglah pasien remaja perempuan berusia 15 tahun diantar polisi untuk visum. Kasusnya perkosaan. Ketika diperiksa, ternyata selaput daranya memang sudah robek, tapi robekannya adalah robekan lama, bukan baru. Artinya, robekan selaput dara bukan disebabkan oleh persetubuhan yang terjadi baru-baru ini (kasus perkosaan yang dilaporkan baru terjadi 3 hari lalu). Setelah ditanya, pasien mengaku sudah sering berhubungan seks, biasanya dengan pacarnya. Dalam kasus yang dilaporkan ke polisi, apakah dengan pacarnya? Bukan. Lalu, dengan siapa? Teman-teman pacarnya. Berapa orang? 4 orang. Dimana? Di hotel pinggir kota. Kok mau diajak begituan'? Pasien mengaku tidak tahu kalau akan diajak berhubungan seks karena di kamar dia dibuat mabuk. Namun, dia tidak bisa menjawab ketika ditanya kenapa mau ke hotel dan diajak ke kamar.
Shift lain, visum juga. Pasien 18 tahun datang dengan kasus penganiayaan yang ternyata adalah KDRT. (?) Yang melakukan adalah suaminya yang juga berusia muda (19 tahun). Kepala pasien dibenturkan ke tembok dan lehernya dicekik. Kok mau, sih, menikah di usia harusnya kamu masih bersenang-senang dan sekolah, dik? Suamimu kasar pula? Oke, pertanyaan 'kepo' yang tidak pernah saya ajukan.
Pernah juga, di salah satu shift (bukan giliran saya jaga), teman saya mendapat pasien usia 20an dengan prolaps uteri (ujung rahim keluar sampai ke liang bahkan pintu vagina). Prolaps uteri usia muda? (?) Biasanya kasus ini terjadi pada nenek-nenek yang memang otot penggantungnya sudah lemah. Oke, diperiksa saja. Dan, wow, ternyata itu bukan prolaps uteri, itu adalah plasenta yang sudah di ujung vagina. Pasien adalah pekerja pabrik yang, setelah diwawancara lebih dalam, baru saja melahirkan diam-diam di toilet pabrik dan membuang bayinya di sekitar pabrik juga.

Oke, beralih dari pasien wanita ke pasien pria. Masih di IGD, datang seorang pasien berusia 17 tahun, masih lajang dan bersekolah. Dari klinisnya saja, tampak sekali bahwa pasien ini menderita 'sesuatu'. Ia sangat kurus, kami menyebutnya kakeksia (tipe kurus yang sangat kurus, sampai tulang-tulang iga kelihatan, perut cekung). Matanya juga cekung dan ia terlihat lemas. Ternyata keluhannya ialah ia sudah sulit makan sejak 1 tahun, diare hilang timbul juga satu tahun, demam naik turun tidak teratur, tenggorokannya sakit saat menelan (tapi tidak ada candidosis oral/ jamur di rongga mulut), batuk-batuk lama, dan berat badannya terus turun. Kemungkinan penyakit pasien ini ada dua, jika bukan keganasan, ya HIV. Karena rasa penasaran yang menggelitik, saya coba-coba bertanya pada pasien itu mengenai perilaku seksualnya. Olala, ternyata benar dia sudah pernah melakukan hubungan seks. Sekali? Tidak. Berkali-kali. Dengan pacar yang sama? Tidak, pacarnya banyak dan berganti-ganti. Amankah seksnya? Tidak. Dia tidak pernah memakai kondom. Pernah dengan PSK? Oke, pertanyaan ini sangatlah kepo, tetapi karena pasien sangat polos dia pun menjawabnya, tidak. Kami pun mengkonsulkannya ke VCT untuk tatalaksana HIV selanjutnya. Sayang sekali, saya tidak tahu perkembangan pasien ini di bangsal dan status HIV-nya.

Sewaktu masih di Puskesmas, pasien yang datang ke klinik IMS rata-rata laki-laki dan berusia muda. Rata-rata masih kuliah atau sekolah. Mereka kebanyakan menderita Gonore (penyakit kencing nanah) atau Sifilis (penyakit raja singa). Bahkan saya pernah menemui pasien laki-laki dengan diantar teman laki-lakinya (sepertinya partner-nya), yang meminta obat Gonore. Dia dengan terang-terangan bertanya bahwa dia juga sedang mengonsumsi ARV, apakah aman jika obatnya dikombinasikan? ARV adalah obat untuk penderita HIV yang dapat mengontrol jumlah leukosit CD4 dan menghambat perkembangannya menjadi AIDS. Oke, itu memang pertanyaan yang wajar dari pasien. Saya saja yang kaget karena tidak menyangka pria berkulit bersih, berwajah tampan, dan berpendidikan di depan saya waktu itu adalah penderita HIV. Umurnya masih sekitar 20 tahun. Dan saya berasumsi dia homoseksual dengan teman yang mengantarnya itu.

Baca selengkapnya

Rabu, 11 Juni 2014

Live.Die.Repeat: That's How He Can Won the War

Live.Die.Repeat: That's How He Can Won the War

Inilah salah satu film yang sedang ramai dibicarakan, entah karena ceritanya atau karena pemerannya.
The Edge of Tomorrow  adalah film teranyar Tom Cruise. Bersama Emily Blunt, Cruise berperan apik dan dapat memberikan kesan cukup mendalam bagi para penonton.

Kisah diawali dengan berbagai pemberitaan mengenai invasi alien ke bumi. Tidak dijelaskan saat itu tahun berapa. Invasi dimulai di Eropa dan terus meluas. Jelas manusia kalah tanding dengan para alien itu. Dengan cepat, berbagai negara hancur dan diambil alih. Para petinggi militer memutar otak untuk dapat menyelamatkan bumi mereka dan akhirnya terciptalah sebuah senjata berbentuk robot (tepatnya seperti eksoskeleton/ rangka luar) yang dinamai The Jacket. Dengan alat itu, militer berhasil memenangkan perang di Verdun dengan dipimpin oleh Rita Vrataski (Emily Blunt). Dan dengan keyakinan bahwa manusia dapat mengalahkan para alien, dibentuklah tentara massal yang dilengkapi Jacket  untuk melakukan penyerangan besar-besaran.

Mayor William Cage (Tom Cruise) adalah seorang orator ulung, yang dengan sugesti darinya, ribuan orang bersedia ikut menjadi sukarelawan tentara. Namun, sebenarnya dia sama sekali bukanlah tentara atau berlatar belakang militer. Dia tidak bisa berperang sama sekali, orang awam. Ketika sang jenderal memberinya perintah untuk ikut berada di garis depan dan berperang, Cage melakukan berbagai macam cara untuk melarikan diri. Yang tentu saja, gagal.

Disinilah cerita sebenarnya dimulai. Cage terbangun di pangkalan pelatihan tentara yang akan diberangkatkan perang besok. Ia pun terpaksa mengikuti latihan hari itu, dan esoknya ikut memakai Jacket yang belum pernah ia pakai sebelumnya, kemudian ikut berperang. Serangan yang dinyatakan sang jenderal sebagai 'awal kemenangan umat manusia' itu ternyata adalah omong kosong belaka. Para alien sudah mengetahui serangan itu dan menunggu. Perang itu menjadi pembantaian masal. Cage pun mati disana, setelah sebelumnya ia membunuh seekor alien yang tidak seperti alien lainnya, dan melepuh karena terkena darah alien unik tersebut.

Boom!
Cage terbangun kembali di pangkalan.
Seperti sebelum ia berperang, ia menjalani hari sembari berusaha mengerti apa yang terjadi. Hanya ia yang ingat apa yang sudah ia jalani. Ia mulai berusaha memperingatkan orang-orang, tetapi tidak ada yang percaya.
Ia kembali berperang. Mati.
Dan Bang!
Ia kembali bangun di pangkalan.
Begitu terus sampai beberapa kali, dan akhirnya ia bertemu Vritaski saat perang. Cage pun spontan menyelamatkan Vritaski yang akan mati, bercerita mengenai penyerangan yang sudah diketahui, dan seketika Vritaski berhenti berlari, menatap Cage yang berbalik melihatnya, lalu berkata, "Meet me when you wake up!"
Boom!
Mereka berdua mati. Cage terbangun. Dan kali ini ia berusaha langsung menemui Vritaski. Yah, meskipun harus mati beberapa kali juga. :)

Ternyata dulu, saat perang di Verdun, Vritaski juga mendapatkan kekuatan yang sama seperti Cage. Itu karena sebelum meninggal untuk pertama kalinya, mereka tersiram darah alien unik itu, yang ternyata disebut Alpha. Jumlah Alpha sangat sedikit, 1: 6,18 juta alien. Alpha diibaratkan seperti sistem saraf pusat para alien itu, dan ia tersambung langsung dengan Omega, otak dan inti dari para alien itu. Omega ternyata memiliki kekuatan mengulang waktu. Jika seorang Alpha terbunuh, Omega akan mengulang waktu kembali dan tentu saja, membuat Alpha tidak jadi terbunuh sekaligus memenangkan perang. 
"Musuh yang dapat memanipulasi waktu, tidak bisa dikalahkan"
Kemenangan di Verdun pun adalah karena para alien itu membiarkan manusia menang. Agar para manusia bangkit semangatnya, dan melakukan penyerangan besar-besaran (seperti yang sedang dijalani Cage berulang-ulang), sehingga para alien dapat melumpuhkan persenjataan manusia dalam sekali waktu.
Manusia tidak bisa menang. Kecuali Cage merubah sesuatu.
Vritaski kehilangan kemampuannya karena saat perang di Verdun, ia terluka dan kehilangan banyak darah sehingga menjalani transfusi. Darah orang lain itulah yang mengambil kemampuannya. Vritaski pun berkata pada Cage, "If something happens to you, make sure you die."

Cage pun mengulang hari yang sama terus, dan terus, dan terus mengulangnya, mungkin hampir ratusan kali, demi mencari cara untuk menemukan dan membunuh Omega. Ia sudah sampai pada fase putus asa dan jatuh cinta pada Vritaski. Ia sudah melakukan berbagai antisipasi, merencanakan berbagai macam tipe serangan, tetapi tetap saja hasilnya sama.
Hingga akhirnya, ia dan Vritaski berhasil membuka jalan baru untuk menemukan Omega dan membunuhnya.
Singkat cerita, di saat Cage kehilangan kekuatannya karena menjalani transfusi, di saat kesempatan tinggal satu kali lagi, ia, Vritaski, dan beberapa temannya berhasil mencapai Omega.
Perang pun dimenangkan umat manusia.
Well, a happy ending that everyone loves, right?

Menurutku, kisah yang dibawakan cukup original dan dikemas dengan apik. Segala yang terjadi pada Cruise di film ini masuk akal dan sesuai dengan ilmu ilmiah. Ide untuk menciptakan alien yang bisa memanipulasi waktu ialah ide yang paling brilian dari film ini. Seorang musuh yang tak bisa dikalahkan.
Alur film ini cepat. Namun, entah kenapa, mungkin karena memang tema ceritanya adalah pengulangan, setelah melihat Cage bangun setelah matinya untuk yang kesekian puluh kali, aku agak bosan. Dan merasa bahwa film ini terasa sangat lama, padahal hanya berdurasi 113 menit.
Cruise dan Blunt membawakan karakter dalam film ini dengan sangat apik, terutama Cruise. Ya wajar ya, dengan kaliber dan track record dia. :)
Secara keseluruhan, film ini layak untuk ditonton bersama keluarga, tetapi mungkin agak berat untuk anak-anak.
Baca selengkapnya