Rabu, 10 Juli 2013

Tidak Mau Berkomunikasi = Tidak Mencintai

Tidak Mau Berkomunikasi = Tidak Mencintai

Aku heran.
Banyak sekali teman yang memiliki kisah sedih dalam percintaannya.
Aku tahu memang dalam setiap hubungan pasti ada masalah yang muncul, ada suka dan dukanya.
Namun, aku heran karena menurutku kisah-kisah sedih itu sebenarnya tidak perlu terjadi.
Mengapa?
Karena core problem-nya biasanya hanya karena komunikasi.
Ya, komunikasi. Sederhana sekali, bukan?
Bagaimana tidak sederhana bila kita setiap saat, setiap menit, dan detik dapat berkomunikasi dengan orang di sekeliling kita? Makanya aku menggunakan kata 'hanya'.
Yang lebih mengherankan ialah kebanyakan dari mereka bisa berbicara dan mengobrol lancar dengan orang lain (yang notabene bukan keluarga, bukan sahabat), tetapi justru sulit untuk berbicara dengan orang yang (diakuinya) dicintainya.

Mengapa sulit untuk meluangkan waktu berbicara dan mengobrol dengan orang yang dicintai?
Justru kalo tidak mengobrol atau mendengar kabar sehari saja, kita akan mencarinya karena kita membutuhkan informasi dan keberadaannya.
Aku juga sering dimintai saran untuk masalah ini 'lalu sebaiknya bagaimana?'.
Jadi, sebenarnya jawabannya juga sederhana untuk masalah simpel itu.
Jika pasangan tidak mau berkomunikasi dengan kita, pilihannya hanya dia tidak bisa atau dia tidak mau.
Tidak bisa disini diartikan dengan dia koma di ICU, sedang kerja di pedalaman Papua atau Kalimantan yang tidak ada sinyal, atau memang tidak punya handphone (dimana di zaman sekarang rasanya tidak mungkin).
Di luar alasan itu, anggaplah pasangan kita memang tidak mau berkomunikasi dengan kita. Karena kalau niat, mau bagaimanapun keadaannya ya akan diluang-luangkan. Tidak mau berkomunikasi artinya tidak membutuhkan informasi dari kita (singkatnya, tidak peduli). Orang yang tidak peduli tidak mungkin mencintai. Jadi, kesimpulannya dia tidak mencintai kita. Pertanyaan selanjutnya, apa perlu hubungan kalian dilanjutkan?

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa aku bisa mengambil kesimpulan dengan mudahnya, terlalu lugas, dan cepat, bahwa tidak mau berkomunikasi artinya tidak mencintai. Mungkin kalian juga akan sinis mengira aku hanya bisa berbicara saja. Percayalah, aku sudah pernah ada di posisi kalian. Bedanya, mungkin sampai saat ini aku bisa survive dari masalah itu.
Kuncinya adalah kita harus pakai logika juga, selain perasaan.
Kalau kalian tidak percaya dengan reasoning-ku, mari kita berlogika bersama.
Kunci sebuah hubungan adalah komunikasi. Kita sepakat. Karena bagaimana mau memiliki hubungan erat dengan seseorang kalau berbicara saja tidak pernah. Tak kenal maka tak sayang, kan? Witing tresno jalaran soko kulino. Ya, kalo gak kulino, gak tresno.
Kemudian, hubungan itu dijalani oleh dua orang. Yang ini kita juga sepakat pastinya. Bisa juga sih dengan tiga-empat orang, tapi itu namanya selingkuh (:p).
Nah, dua orang itu tentu harus bersama membangun komunikasi yang baik agar hubungan bisa berjalan harmonis. Jika salah satunya tidak mau, maka hubungan akan berjalan timpang. Tidak bisa, harus dua-duanya.
Suatu saat, jika kalian mengalami masalah dimana pasangan mulai jarang menghubungi, tidak membalas bbm/line, atau tidak mengangkat telpon, mulailah dengan bertanya baik-baik padanya (ini juga namanya kita berkomunikasi dengan baik, kan, gak ujug-ujug marah). Bertanyalah apa alasannya. Jika masih bisa diterima, bersabarlah dan mengalah. Definisi 'diterima' disini tergantung penilaian masing-masing, ya. Intinya jangan langsung marah.
Adalah hal yang wajar jika dia melakukan itu memang karena dia tidak bisa (di awal kerja misalnya, masih butuh adaptasi, dll). Namun, hati-hati jika ternyata masalah ini berlangsung berlarut-larut, dengan alasan yang awalnya bisa diterima, tetapi lama-lama rasanya mulai dibuat-buat. Mulai pasang alarm bahwa mungkin dia sebenarnya tidak mau berkomunikasi, bukan tidak bisa lagi.
Alasan yang paling kubenci adalah 'aku sibuk di kantor', 'ada meeting', 'aku lembur', 'aku lagi outing jadi seharian ada kegiatan', dan semacamnya.
Mengapa aku tidak suka? Karena logikanya saja, memang dia tidak makan, tidak minum, tidak solat, tidak ke toilet, atau sama sekali tidak mengobrol dengan temannya? Tidak mungkin, kan? Nah, padahal memberi kabar pada kita lewat bbm atau sms 'maaf, aku lagi ada kerjaan, nanti malam aku telpon ya :*' tidak akan melebihi 2-3 menit. Kalau mereka bisa makan setengah jam, ke toilet total 15 menit selama di kantor, minum 20 menit, ngobrol sama teman 2 jam, masa tidak bisa meluangkan waktu 2-3 menit untuk mengabari kita? Disinilah aku berani bilang bahwa mungkin mereka tidak mau. Semua itu tergantung niat. Artinya mereka memang tidak berniat menghubungi kita dengan intens.
Penguatannya lagi sekarang, aku mengenal banyak orang yang jauh jauuuuh lebih sibuk dari mereka yang sok-sok sibuk gak bisa balas sms. Di atas langit, masih ada langit. Sesibuk-sibuknya mereka, gak boleh jadi orang sombong yang bilang 'gak ada waktu' padahal banyak orang yang jabatannya lebih tinggi dan literally  lebih sibuk dari mereka, bisa kok sms atau telpon istri/suaminya untuk bilang 'halo, aku lagi makan siang, nih. Kamu makan apa disana?Nanti malam kita banyak ngobrol di rumah,ya'.

Selalu ada waktu luang untuk orang yang kita cintai. Selalu ada.
Aplikasikan saja ke diri kita sendiri, bagaimana jika kita mencintai seseorang. Wajar jika kita selalu ingin tahu  keadaan orang yang kita cintai. Wajar jika kita ingin mengobrol. Parameter gampangnya, jika dia tidak merasakan yang rindu kita rasakan atau berusaha melakukan komunikasi seperti kita, cinta dia tidak sebesar cinta kita (itu kalo masih ada cinta dalam hatinya).
Kembali ke prinsip awal, hubungan itu dijalani oleh dua orang, yang seharusnya memiliki cinta yang sama besar dan mau berusaha sama keras untuk memperjuangkan hubungan. Jika timpang, tidak akan ada keharmonisan.
Begitulah kira-kira.
Namun, semua kembali ke diri masing-masing. Aku selalu berkata seperti itu pada teman-temanku yang bercerita padaku. Seperti kasus-kasus dalam dunia kedokteran, setiap masalah itu unik dan harus di-treat case-by-case.
Kalianlah yang paling tahu hubungan kalian. Bukan aku, bukan sahabat, bukan orang tua, tapi kalian berdua.
Carilah jalan yang membuat kalian berdua bahagia. Harmonis adalah suatu keidealan.
Aku juga sering menemui temanku yang mengambil jalan pintas. Dia tidak mampu membuat pasangannya bisa berkomunikasi dan tidak pula cukup kuat untuk membuat keputusan meninggalkannya. Jadilah temanku itu mengambil jalan mengalah.
Ya, mengalah memang bisa memecahkan semua masalah dalam hubungan. Namun, pertanyaannya, kalian ingin hubungan yang didasari 'mengalah terus menerus' atau ingin hubungan yang harmonis dan bahagia.
Dimana letak kebahagiaan kalian?
Tentukanlah dan beranilah mengambil keputusan, termasuk keputusan tidak lelah berusaha jika ingin mengubah dirinya.

Baca selengkapnya

Kamis, 04 Juli 2013

Pemikiran Restrospektif: Pribumi dan Indo, Dulu dan Sekarang

Pemikiran Restrospektif: Pribumi dan Indo, Dulu dan Sekarang

Beberapa minggu belakangan ini aku sedang menyelesaikan roman pertama dari tetralogi Pramoedya, berjudul Bumi Manusia.
Cerita dalam buku itu menurutku sangat menawan. Aku mengerti kenapa Pramoedya disebut maestro pada zamannya. Aku mengerti mengapa bukunya banyak yang dicekal pemerintah Belanda dan tidak bisa terbit secara lengkap. Aku paham mengapa pemikiran Pramoedya pada zaman itu dianggap sangat berbahaya.

Buku ini sangat mengagumkan.
Bercerita tentang seorang Pribumi bernama Minke. Hanya Minke, tanpa nama keluarga atau embel-embel apapun. Satu hal kecil yang zaman itu dianggap tabu dan memalukan. Menjadi Pribumi saja sudah suatu kehinaan, apalagi tanpa nama belakang. Minke yang malang.
Namun, Minke sang Pribumi ini justru bisa belajar dari carut marutnya bumi manusia yang ia diami. Berlatar di Surabaya dan Wonokromo, ia membandingkan kehidupan Pribumi yang terbelakang dengan Indo atau Belanda Totok yang menempati strata di atasnya. Minke menjadi satu-satunya Pribumi dalam buku ini yang cukup bijak dan dewasa untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda.

Dalam ulasan kali ini, mungkin aku fokuskan saja pada pemikiran dan pendapatku tentang roman ini. Resensi Bumi Manusia akan kubuat kemudian.
Pertama, aku ingin mengomentari tentang keadaan pribumi dan Indo masa itu.
Memang aku tidak menjalani masa itu sendiri. Hanya dengan membayangkan dan membaca, tidak bisa memberikanku gambaran secara keseluruhan. Namun, paling tidak, aku bisa merasakan apa yang terjadi di zaman itu.
Pribumi adalah bangsa yang sangat hina. 
Di negeri sendiri, mereka terinjak-injak, tak punya harga. Mereka tidak berpendidikan, juga tidak punya harta dan jabatan. Sekolah H.B.S yang cemerlang pun hanya diperuntukkan bagi Totok dan Indo. Jika ada Pribumi yang bisa masuk kesana, hanyalah anak yang berasal dari kalangan pembesar Jawa, yang bagaimanapun, stratanya tetap menjadi yang terbawah.
Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kondisi pendidikan saat itu? Bagaimana dengan anak-anak yang lain, yang hanya rakyat jelata? Mereka tidak akan pernah bisa mengenyam pendidikan yang setara dengan anak bangsa lain. Dalam mimpi pun tidak. Padahal ini negeri mereka sendiri. Mereka di Hindia, bukan Belanda ataupun Inggris. Mereka menjadi budak di negeri sendiri.
Kemudian, hal yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa bangsa Pribumi mengakui bahwa mereka tidak sederajat dengan bangsa pendatang. Hal tersebut tercermin dari sikap, kata-kata, dan pemikiran mereka.
Pramoedya menggambarkan dengan sangat apik hal ini dalam adegan ayah Minke yang diangkat jadi Bupati. 
Ya, judulnya saja Bupati, hanya gelar. Namun, pemikirannya masih sangat terbelakang. Boleh saja sang Bupati itu bertindak seperti raja di rumah dan kantor sendiri. Semua orang yang menemuinya harus bertelanjang kaki, jalan menggunakan lutut sejak memasuki pendopo, dan duduk bersimpuh di kakinya serta harus menghaturkan sembah sujud. Bah! Seperti dewa saja dia. Dengan anak-anaknya pun, ia hampir selalu menunjukkan kehausan penghormatan akan kewibawaannya, dibandingkan dengan menunjukkan kasih sayang dan mengajari anaknya dengan tulus. Namun, seperti bisa diduga, semua berubah 180 derajat begitu berhadapan dengan Tuan Asisten Residen yang seorang Belanda asli. Ia seakan melepaskan semua jubah kebesarannya dan berbalik siap mengembik memberi hormat pada orang Belanda itu. Ia tunduk, pasrah, dan bahkan menatap pandang dnegan kepala tegak saja tidak berani. Jika berada diantara bangsanya, ia menjadi paling sok gagah, tetapi di depan Belanda, ia tiba-tiba berubah menjadi malu akan kodratnya menyandang nama Jawa dalam darahnya. Tragis. Ironis.
Hanya dengan membaca karya Pramoedya ini, aku merasakan emosi dalam dadaku yang bergolak. Bangsaku dulu mempermalukan diri sendiri sampai seperti ini. Dan parahnya lagi, mereka tidak menyadarinya. Justru Minke yang seorang diri berani tegak berdiri memandang Tuan Asisten Residen Totok itu, bangga dengan Jawa dalam darahnya ketika menjalani diskusi dengan para Belanda, malah dianggap anak pembangkang yang tidak mau menurut pada tata krama Jawa, unggah-ungguh  menggelikan itu. Ia menjadi tersingkirkan, hanya karena punya pemikiran yang lebih maju dan luas, hanya karena ia berbeda dari masyarakat kebanyakan. Minke bukannya tidak berbudaya, hanya saja ia telah mengerti bahwa bukan itu yang dibutuhkan bangsa ini untuk bangkit. Ilmu dan pemikiran yang luaslah yang dibutuhkan para Pribumi untuk dapat membela bangsanya sendiri. Sayang, kemampuan Minke itu justru diakui bukan oleh bangsanya, tetapi justru oleh sang Belanda, Tuan Asisten Residen.
Pramoedya memberikan sudut pandang yang menarik dalam hal ini.
Tuan Asisten Residen, Herbert de la Croix, kebetulan adalah seorang Belanda yang tulus membela bangsa Hindia. Mungkin hanya segelintir Belanda seperti dia, yang mau berpikir untuk menyelamatkan bangsa Hindia yang menyedihkan ini. Dalam pandangan de la Croix, Hindia adalah bangsa yang menyedihkan. Mengapa? Karena mereka me'melata'kan diri mereka sendiri di hadapan Belanda. Seperti yang sudah kuceritakan di atas, mereka menerima bangsa harga bangsa mereka lebih rendah dari Belanda atau bangsa manapun, dan hal itulah yang membuat mereka tidak terselamatkan lagi. 
Beberapa orang Belanda di Eropa sana pernah mengangkat masalah Pribumi ini ke kancah internasional, membela dan memperjuangkan. Menurut de la Croix, perjuangan cara itu sudah harus ditinggalkan. Sekarang ini saatnyalah bangsa Pribumi sendiri yang harus bangkit untuk membela diri mereka sendiri. Jika tidak, tidak akan ada perubahan yang terjadi. Tidak akan ada perubahan pada kehidupan di bumi manusia ini. Tetap menyedihkan dan tertinggal. Dan perjuangan yang seharusnya dilakukan, bukanlah seperti peperangan zaman dulu yang tetap berperang meski tahu akan kalah, yang berperang menggunakan kekuatan, yang berperang tanpa mau menerima kodrat kalah. Peperangan yang dimaksud adalah dnegan menggunakan otak, dengan ilmu dan pengetahuan. Siapa yang menggenggam kedua hal itu, akan dapat mengubah nasib bangsanya. Hal itulah yang belum dipahami oleh bangsa Hindia. Mereka malah bersenang-senang dalam keterpurukan mereka. Bagaikan gamelan Jawa yang selalu menunggu gong untuk memutar kembali alunan lagu yang sama, bangsa Hindia sedang menunggu gong mereka untuk membawa perubahan. Sayang, entah gong itu akan datang atau tidak.
Mengapa aku menuliskan hal ini panjang lebar?
Karena aku setuju. Aku setuju dengan pemikiran Pramoedya. Ini bukan masalah menjelekkan atau mengkritik bangsa sendiri. Ini lebih kepada mengungkapkan pendapat untuk mencari solusi atas masalah bersama. Jika kalian meresapinya, kalian pasti mengerti kenapa aku sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Pramoedya. Bisa memiliki ide, pengetahuan, sudut pandang seluas itu di zamannya, sungguh luar biasa.
Pertanyaannya, sudahkah bangsa kita bisa menerima pemikiran tersebut? Zaman Pramoedya itu sudah lama berlalu, Belanda sudah lama pergi, tetapi mengapa rasanya pemikiran kita, kebanyakan Pribumi tetaplah sama? Kita tetap me'melata'kan diri sendiri di hadapan dunia global ini. Kita tetap belum menyadari betapa penting ilmu dan pengetahuan dalam perjuangan kita, pembelaan kita akan harga diri dan martabat. 
Insiden yang terjadi pada Pak Habibie menjadi contoh nyatanya. Kegagalannya membawa Indonesia mengikuti kecepatan berpikirnya sudah menjadi bukti. Bayangkan, Pak Habibie bisa diibaratkan Minke dalam roman Bumi Manusia. Mereka ingin maju, mereka ingin berkembang di negara mereka, tetapi bangsanya sendiri yang menghambat. Bangsa sendiri yang merendahkan. Minke banyak menulis tentang Pribumi di surat kabar, tetapi tidak juga menggerakkan masyarakatnya. Padahal Minke sedang memperjuangkan nasib mereka, membuka mata Belanda dan Indo pelan-pelan. Pak Habibie mengerti bahwa sumber daya manusia adalah modal utama kemajuan negara. Ilmu dan pengetahuan adalah teman manusia yang paling dekat dengan perubahan. Namun, impian besar itu dikandaskan sendiri oleh bangsa ini.
Suara satu orang memang tidak akan berarti apa-apa di bangsa yang besar ini. Mayoritas selalu menang, pun jika yang kebanyakan itu adalah hal yang salah. Kebenaran yang dilingkupi oleh kesalahan akan terlihat lebih salah dari kesalahan yang seakan-akan benar itu. 
Tidakkah ironis, pemikiran bangsa ini dari dulu hingga sekarang masih berada dalam jalur yang sama?
Baca selengkapnya