Selasa, 30 Oktober 2012

My First Horror Drama

Satu minggu lalu, aku telah selesai menonton drama series berjudul American Horror Story.

Gila ya, baca textbook obsgyn satu pun gak ada yang tamat dalam 9 minggu, tapi menonton film begini 1 minggu aja kelar. 
Salah orientasi -______-

Film ini pertama kali kuketahui judulnya dari artikel di fimela.com. 
Artikel itu mengulas tentang series barat yang sedang populer dan drama ini menjadi satu-satunya drama bergenre horor yang masuk dalam jajaran film bergengsi tersebut.

Setelah menontonnya, kesanku: 'well, it's not bad, but it's not great either'.
Lumayanlah kalau suka film drama yang ada sedikit horornya, bukan film horor yang ada sedikit dramanya.
Karena menurutku, film ini tidak begitu seram. Menegangkan juga tidak, hanya sedikit sering membuat kaget.
Namun, harus diakui, jalan ceritanya cukup menarik sehingga aku cukup antusias mengikuti keseluruhan 12 episodenya.

Pusat cerita adalah sebuah rumah berhantu yang disebut The Murder House.
Rumah tersebut khas rumah-rumah kuno berhantu. Besar, antik, banyak kamar dan ada basement-nya.
Dibangun oleh dr. Charles Montgomery untuk istrinya Nora pada tahun 1847.
Entah karena apa, rumah itu memiliki kekuatan mistis tersendiri.
Entah karena apa, setiap orang yang meninggal di rumah itu, karena sebab apapun, rohnya terjebak dan tidak bisa menyeberang ke alam lain.
Mereka menjadi hantu.

dr. Charles adalah seorang dokter bedah yang praktiknya sangat lesu. 
Nora, seorang sosialita, selalu menghujat dan menghina suaminya itu karena tidak mampu memberikan kehidupan mewah sebagaimana mestinya bangsawan. 
Karena depresi, dr. Charles menderita Franskestein Syndrome
Alih-alih berpraktik, ia menghabiskan waktu dengan mengurung diri di ruang bawah tanah, mencoba menggabung-gabungkan bagian-bagian tubuh berbagai spesies hewan.
Otomatis mereka bangkrut. 
Untuk menutupi masalah keuangan ini, Nora menginisiasi bisnis aborsi ilegal. 
Setelah lebih dari dua lusin bayi berhasil mereka aborsi, karma datang menghampiri. 
Anak mereka satu-satunya, Thaddeus, diculik, dibunuh, dan dimutilasi oleh ayah salah seorang bayi yang mereka aborsi.
Setelah polisi menyerahkan mayat bayi itu, bukannya dikuburkan, dr. Charles malah menjadikannya bahan percobaan. 
Memang akhirnya Thaddeus bisa hidup lagi (inilah satu-satunya prestasi dr. Charles yang patut diapresiasi), tapi dengan penampakan dan tingkah laku yang lebih mirip monster.
Jadilah Nora hilang akal sehat dan membunuh Thaddeus. Lalu Nora membunuh suaminya dan akhirnya membunuh dirinya sendiri.
Tragedi pertama selesai.
Lalu dimulailah rangkaian drama kematian di rumah terkutuk itu.


Tahun berganti tahun, darah terus tertumpah.


Seorang murid kedokteran dan perawat mati dibunuh oleh psikopat. Si murid perempuan ditusuk berkali-kali di bagian punggung sedangkan perawat ditenggelamkan di bak mandi.
Seorang gadis yang ingin menjadi artis mati dibunuh oleh dokter gigi yang berpraktik di rumah itu. Well, sebenarnya ini kematian kecelakaan karena dokter gigi itu kebanyakan memakai obat bius. Namun, karena hantu dr. Charles kesenengan melihat ada korban baru, jadilah mayat wanita itu ditemukan dalam keadaan termutilasi.
Kemudian pindahlah Constance ke rumah itu. 
Constance adalah wanita yang berperan besar dalam kisah ini. Wanita yang tahu banyak dan menyebabkan pula banyak kematian di rumah itu.
Ia menangkap basah suaminya selingkuh dengan pembantu rumah tangganya, Moira. Jadilah Constance menembak mati mereka berdua. Sebenarnya Moira tidak salah karena suami Constance yang memaksa. Kasihan Moira juga harus ikut terbunuh.
Lalu Constance menyuruh orang untuk membunuh anaknya yang berwajah seperti monster karena menderita Down Syndrome.
Dua anak Constance lainnya yang juga menderita Down Syndrome mati di rumah itu juga. Sepertinya sih karena dibunuh Thaddeus. Gak begitu jelas juga kisah si kembar ini dan tidak begitu bermakna.
Satu-satunya anak Constance yang normal, maksudnya tidak menderita Down Syndrome, yang bernama Tate terbunuh. Tate juga salah satu tokoh utama yang penting dalam drama ini. Ia bisa dibilang adalah murni psikopat. Ketika masih hidup, dia membakar hidup-hidup selingkuhan ibunya lalu membunuh 15 orang teman SMA-nya. Jadilah ia ditembak mati polisi di kamar tidurnya karena melawan ketika hendak dibawa ke diamankan. Setelah mati, Tate masih jadi seorang pembunuh.
Ia membunuh pasangan gay penghuni rumah itu pada tahun 2000-an, Pat dan Chad.
Ia membunuh bapak-bapak pembasmi serangga.
Ia membunuh tiga orang penjahat yang memasuki rumah itu.
He's the real killer of this drama.
Oh ya, jangan lupakan Hayden, yang juga dibunuh di rumah itu.
Ada juga Travis, pacar Constance di masa kini, yang dibunuh oleh Hayden.

Benar-benar rumah yang ramai.
Itu baru sekilas tentang hantu yang menghuni The Murder House.
Drama ini, selain bercerita tentang bunuh membunuh, sebenarnya dikisahkan mengikuti kehidupan keluarga Harmon, keluarga yang baru saja pindah ke rumah itu.
Mengapa mereka mau pindah ke rumah seperti itu?
Pertama, karena agen real estate-nya tidak pernah menceritakan sejarah kelam rumah itu yang sebenarnya. Mungkin ini menjadi masukan juga bagi kita agar jangan mudah percaya pada agen real estate, hehe.
Kedua, karena harga yang ditawarkan sangat murah. Siapa yang tidak tergiur dengan barang murah?

Ini Vivien bersama si hantu kembar anak Constance yang (mungkin) mati dibunuh Thaddeus.

Nah, pindahlah keluarga Harmon ke rumah itu. Ben Harmon, Vivien Harmon, dan anak perempuan mereka Violet.
Kepindahan mereka itu bukan tanpa sebab. Mereka berharap memiliki fresh start karena Ben ketahuan selingkuh di depan mata Vivien dengan salah satu muridnya. 
Selingkuhan Ben adalah Hayden. 
Ingat Hayden yang menjadi hantu? 
Yup! 
Ia dibunuh karena mengandung anak Ben akibat perselingkuhan itu. 
Kehidupan keluarga Harmon di rumah itu penuh dengan teror, misteri, tangis, air mata, dan darah dalam menghadapi hantu-hantu penasaran itu.

Ada hal yang aneh sebenarnya.
Karena di tengah cerita Vivien hamil oleh Tate. 
Memangnya bisa hantu membuat hamil seorang manusia? 
Tentu tidak bisa. Tapi di kisah ini sih katanya bisa.

Akhir drama ini tidak bahagia.
Ketiga orang baik itu semuanya mati.
Violet mati karena bunuh diri dengan meminum pil. Yah, tidak sepenuhnya salah dia juga. Dia hanyalah remaja labil yang harus menghadapi berbagai tragedi kehidupan.
Vivien mati ketika melahirkan bayi hasil konsepsi dua dunia itu.
Ben mati digantung oleh Hayden yang dendam.
Yang hidup hanyalah si anak blasteran hantu manusia yang katanya akan menjadi anti-christ dan membawa dunia ke akhir kehidupan --> aku tidak suka cerita ini karena deja vu dengan drama Supernatural. 
Kenapa cerita hantu harus selalu dikait-kaitkan dengan tuhan, iblis dan akhir dunia? 
Aku tidak suka. Tidak kreatif.

Sisi bahagianya adalah, paling tidak, Ben, Vivien, dan Violet akhirnya 'hidup' bertiga di rumah itu.
Ditambah dengan MOira yang baik hatinya.
Untuk pertama kalinya sejak awal cerita, keluarga ini terlihat bahagia dan menikmati 'kehidupan' mereka.

Menurutku, drama ini tidak buruk juga untuk ditonton.
Tapi untuk pecinta horor, jangan mengharapkan sesuatu yang akan menakutkanmu sampai terbawa mimpi, Silakan menonton di waktu luang Anda.
Dan mari kita tunggu bersama season keduanya ^_^

Baca selengkapnya

Minggu, 07 Oktober 2012

Ketika Dunia Adalah Ruang Hitam Tanpa Suara

Ketika Dunia Adalah Ruang Hitam Tanpa Suara

Tulisan Tere-liye mudah ditebak: penuh dengan nilai kesederhanaan, kerja keras, dan janji kehidupan di tangan kanak-kanak.
Buku ini pun kurang lebih mengusung nilai yang sama dengan menampilkan tokoh-tokoh baru.
Sayang, dikemas dengan cerita yang kualitasnya seperti bukan standar Tere-Liye.


Melati, adalah gadis berusia 6 tahun yang menjadi buta, tuli, dan bisu sejak 3 tahun lalu. 
Seperti sewajarnya anak-anak yang terkungkung dalam dunia hitamnya sendiri, Melati menjadi liar. 
Tidak dapat diatur, tidak dapat makan dengan manner manusia, mudah emosi dan membanting-banting barang, serta kelakuan buruk lainnya.
Orang tua Melati sudah mengusahakan berbagai cara agar Melati sembuh. 
Ketika mereka tahu anak semata wayang mereka tidak akan bisa normal lagi, mereka berusaha agar dapat melakukan komunikasi.
Entah sudah berapa cara mereka tempuh, keputusasaan sudah di depan mata.
Akhirnya terpilihlah Karang sebagai lini terakhir sang ibu karena Karang memiliki track record membuat seorang anak yang lumpuh dapat berjalan kembali dengan dongeng dan kisah-kisah yang ia ceritakan.

Sayangnya, ketika Karang menerima permintaan untuk mengobati Melati, pemuda itu sendiri sebenarnya sedang sakit. 
Ia masih belum melupakan kejadian ketika anak-anak yang dia asuh di taman bacaan tewas karena badai. Saat itu, mereka akan pergi berwisata dengan kapal. 
Karang mencintai anak-anak. Ia mencintai mereka dengan segenap hatinya. Karena itulah ia menjadi sangat terluka.

Dimulailah perjalanan Karang dan Melati untuk saling mengobati. Sulit dan alot.

Namun, akhirnya ditemukan jalan untuk berkomunikasi dengan Melati dan obat untuk menyembuhkan hati Karang.
Akhir ceritanya indah dan bahagia.

Dalam menulis novel ini, Tere-Liye terinspirasi oleh kisah Helen Keller, seorang wanita buta, tuli, dan bisu (awalnya) yang benar-benar hidup di dunia kita. Seorang wanita luar biasa yang dapat keluar dari semua keterbatasannya itu. Aku ulas buku tentang tokoh ini (The Story of My Life) dalam artikel resensi yang lain. :)


Mungkin karena aku sudah membaca kisah asli Helen Keller, novel Moga Bunda Disayang Allah ini tidak begitu menarik bagiku.

Ini adalah salah satu novel Tere-Liye yang tidak kusukai.
Bayangkan, konfliknya terlalu sederhana untuk buku setebal ini. Konflik yang diusung hanya cara untuk membuat Melati dapat berkomunikasi. 
Apa isi cerita yang kalian bayangkan jika bukunya setebal ini dengan konflik yang hanya satu?
Tepat.
Banyak hal-hal kurang penting dituliskan, kalimat-kalimat bersayap yang diulang-ulang, dan alur yang lambat.
Apa yang kalian rasakan saat membaca cerita seperti ini?
Betul.
Bosan.
Itulah yang kurasakan.

Selain itu, penokohannya kurang bagus.

Entah mengapa penulis memilih tokoh Karang sebagai orang yang mengobati Melati.
Karang diceritakan sebagai pemabuk dan pengangguran. Ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri, tidak bisa keluar dari masalahnya sendiri.
Bagaimana pula dia ingin membantu orang lain, mengurus orang lain? Apalagi orang itu buta, tuli, dan bisu? Hanya karena Karang mencintai anak-anak? Alasan yang sangat tidak kuat dan rasional.
Itu seperti ada orang yang pantas menjadi dokter hanya karena ia mencintai sesama dan sangat ingin membantu menyembuhkan penyakit orang lain.
Ilmu dasarnya mana?
Di buku The Story of My Life, Anne Sullivan-guru Helen Keller, memang adalah seorang guru yang punya latar belakang ilmu untuk mendidik anak-anak. 
Ya, kalian dapat memberikan penilaian sendiri tentang hal ini.
Intinya, secara keseluruhan saya tidak merekomendasikan buku ini. 
Masih banyak buku Tere-Liye lain yang lebih bagus :D
Baca selengkapnya

Rabu, 03 Oktober 2012

Penyakit Jantung Hipertensi

Penyakit Jantung Hipertensi


Peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu lama dan tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai perubahan pada struktur miokardium, vaskularisasi koroner, dan sistem konduksi jantung. Perubahan-perubahan ini dapat berkembang menjadi left ventricular hypertrophy (LVH), coronary artery disease (CAD), various conduction system diseases, dan disfungsi sistolik dan diastolik dari miokardium, yang bermanifestasi klinik sebagai angina atau infark miokard, aritmia jantung (terutama fibrilasi atrium), dan congestive heart failure (CHF). Karena itulah, penyakit jantung hipertensi (PJH) adalah suatu sebutan umum untuk penyakit-penyakit jantung, seperti LVH, CAD, aritmia jantung, dan CHF, yang disebabkan karena efek langsung maupun tak langsung dari peningkatan BP. 

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi dari PJH adalah hal yang kompleks dari faktor hemodinamik, struktural, neuroendokrin, sellular, dan molekular. Di satu sisi, faktor-faktor tersebut memainkan peranan penting pada munculnya hipertensi dan komplikasinya. Di sisi lain, peningkatan tekanan darah itu sendiri dapat memodulasi faktor-faktor ini. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan perubahan pada struktur dan fungsi jantung melalui 2 jalan, yaitu secara langsung dengan meningkatkan afterload dan tidak langsung dengan perubahan vaskular dan neurohormonal. 
a.  Left Ventricular Hypertrophy (LVH)
Pada pasien dengan hipertensi, 15-20% memiliki LVH. Risiko LVH meningkat 2 kali lipat diasosiasikan dengan obesitas. Penelitian telah menunjukkan hubungan langsung antara level dan durasi peningkatan tekanan darah dan LVH.
LVH, didefinisikan sebagai peningkatan massa di ventrikel kiri, disebabkan oleh respon myosit pada stimulus yang bermacam-macam yang ‘menemani’ peningkatan tekanan darah. Hipertrofi myosit dapat muncul sebagai respon kompensasi pada peningkatan afterload. Stimulus mekanik dan neurohormonal yang muncul seiring dengan hipertensi dapat menyebabkan aktivasi dari myocardial cell growth, ekspresi gen, dan karena itu menimbulkan LVH. Sebagai tambahan, aktivasi sistem renin-angiotensin, melalui kerja angiotensin II pada reseptor angiotensin I, menyebabkan pertumbuhan interstitium dan komponen sel matriks. Kesimpulannya, timbulnya LVH dikarakterisasi dengan hipertrofi myosit dan ketidakseimbangan antara myosit dan interstitium dari struktur miokardium. 
Pola bervariasi dari LVH telah dideskripsikan, termasuk remodeling konsentrik, LVH konsentrik, dan LVH eksentrik. LVH konsentrik adalah peningkatan ketebalan dan massa ventrikel kiri disertai peningkatan volume dan tekanan diastolik ventrikel kiri, biasa ditemukan pada orang dengan hipertensi. LVH eksentrik adalah peningkatan ketebalan ventrikel kiri tidak menyeluruh tetapi pada tempat tertentu seperti septum. LVH awalnya memainkan peran protektif sebagai respon dari peningkatan tekanan dinding untuk mempertahankan cardiac output yang adekuat. Namun setelah itu, perkembangan ini menyebabkan disfungsi diastolik dan sistolik miokardium. 
b.  Atrium kiri yang abnormal
Perubahan struktural dan fungsional dari atrium kiri sangat sering ditemui pada pasien hipertensi tetapi tidak terlalu diperhatikan. Peningkatan afterload mempengaruhi atrium kiri, yaitu karena peningkatan tekanan end-diastolic ventrikel kiri sekunder dari peningkatan tekanan darah menyebabkan gangguan atrium kiri, penambahakan ukuran dan ketebalan atrium. Sebagai tambahan dari perubahan-perubahan struktural tersebut, pasien memiliki faktor risiko terhadap fibrilasi atrium. Fibrilasi atrium dengan hilangnya kontribusi atrium pada keadaan disfungsi diastolik akan menyebabkan gagal jantung. 
c.  Penyakit katup jantung (valvular disease)
Walaupun penyakit katup jantung tidak menyebabkan PJH, hipertensi yang kronik dan parah dapat menyebabkan dilatasi aorta, menuju pada insuffisiensi signifikan dari aorta. Selain menyebabkan regurgitasi aorta, hipertensi juga diperkirakan mempercepat proses sklerosis pada aorta dan menyebabkan regurgitasi mitral. 
d.  Gagal jantung
Gagal jantung adalah komplikasi yang biasa terjadi pada peningkatan tekanan darah kronik. Pasien dengan hipertensi ada yang asimtomatik tetapi memiliki risiko untuk menjadi gagal jantung (stage A atau B menurut klasifikasi ACC/AHA tergantung apakah pasien memiliki penyakit jantung struktural sebagai konsekuensi hipertensi), ada juga yang simtomatik gagal jantung (stage C atau D menurut klasifikasi ACC/AHA). Hipertensi sebagai penyebab gagal jantung kronik biasanya tidak disadari, karena pada saat terjadi gagal jantung, disfungsi ventrikel kiri tidak mampu untuk menaikkan tekanan darah, karena itu mengaburkan etiologi gagal jantung. 
Disfungsi diastolik biasa ditemukan pada orang dengan hipertensi. Sering juga disertai oleh LVH. Selain peningkatan afterload, faktor lain yang berkontribusi pada disfungsi diastolic termasuk koeksistensi CAD, penuaan, disfungsi sistolik, dan struktur abnormal seperti fibrosis dan LVH. 
e.  Myocardial ischemia
Pasien dengan angina mempunyai prevalensi hipertensi yang tinggi. Hipertensi adalah faktor risiko yang melipatgandakan kemungkinan munculnya CAD. Munculnya iskemi pada pasien hipertensi adalah multifaktorial. Shear stress yang berasosiasi dengan hipertensi dan hasilnya adalah disfungsi endotel, menyebabkan gangguan sintesis dan pelepasan poten vasodilator nitric oxide (NO). Penurunan level NO memicu timbulnya dan mempercepat arteriosclerosis dan pembentukan plaque. Morfologi plaque nya identik dengan pada pasien tanpa hipertensi.
f.  Aritmia jantung
Aritmia jantung biasa ditemukan pada pasien dengan hipertensi termasuk fibrilasi atrium, kontraksi ventrikel prematur, dan takikardia ventrikel. Risiko kematian jantung mendadak meningkat. Berbagai macam mekanisme diperkirakan memainkan peran pada patogenesis aritmia, termasuk gangguan struktur selular dan metabolisme, perfusi yang buruk, fibrosis miokardium, dan fluktuasi afterload. Semua hal tersebut dapat meningkatkan risiko takiaritmia ventrikel. Fibrilasi atrium (paroxysmal, kronik rekuren, atau kronik persisten) biasa ditemukan pada pasien hipertensi. Walaupun penyebab pastinya tidak diketahui, abnormalitas struktur atrium kiri, CAD, dan LVH ikut berperan penting. Kontraksi prematur ventrikel, aritmia ventrikel, dan kematian jantung mendadak lebih sering ditemukan pada pasien dengan LH daripada tanpa LVH. Etiologi aritmia ini diperkirakan adalah CAD dan fibrosis miokardium. 

Evaluasi pasien hipertensi atau penyakit jantung hipertensi ditujukan untuk:
-          Meneliti kemungkinan hipertensi sekunder
-          Menetapkan keadaan pra pengobatan
-        Menetapkan factor-faktor yang mempengaruhi pengobatan atau factor yang akan berubah karena pengobatan
-          Menetapkan kerusakan organ target
-          Menetapkan factor risiko PJK lainnya

KELUHAN DAN GEJALA
Awalnya, seperti hipertensi pada umumnya kebanyakan pasien tidak memiliki keluhan. Bila simtomatik, biasanya disebabkan oleh:
1. Peningkatan tekanan darah itu sendiri, seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy), dan impoten
2.  Penyakit jantung/hipertensi vaskular seperti cepat capek, sesak napas, sakit dada (iskemia miokard atau diseksi aorta), bengkak kedua kaki atau perut. Gangguan vaskular lainnya adalah epistaksis, hematuria, pandangan kabur karena pendarahan retina, transient serebral ischemic.
3. Penyakit dasar seperti pada hipertensi sekunder, yaitu polidipsia, poliuria, dan kelemahan otot pada aldosteronisme primer, peningkatan BB dengan emosi yang labil pada sindrom Cushing. Feokromositoma dapat muncul dengan keluhan episode sakit kepala, palpitas, banyak keringat, dan rasa melayang saat berdiri (postural dizzy).


PEMERIKSAAN/TANDA FISIK
Pemeriksaan fisis dimulai dengan menilai keadaan umum; memperhatikan keadaan khusus seperti Cushing, feokromasitoma, perkembangan tidak proporsionalnya tubuh atas dibanding bawah yang sering ditemukan pada koarktasio aorta. 
Tanda fisik yang ditemukan adalah sebagai berikut:
1. Pulsasi
Pulsasi arteri normal pada stage awal penyakit
         - Ritme
Regular jika pasien pada sinus rhythm
Irregularly irregular jika pasien pada fibrilasi atrium
         - Denyut
Normal pada pasien dengan sinus rhythm dan tidak gagal jantung
Takikardia pada pasien dnegan gagal jantung dan pada pasien dengan fibrilasi atrium
         - Volume
Normal
Menurun pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri
      2. Tekanan darah
Sistolik dan atau diastolic meningkat (>140/90 mmHg). Tekanan darah rata-rata dan tekanan pulsasi juga meningkat.
      3. Vena
Pada pasien dengan gagal jantung, vena jugular mungkin menggembung.
      4. Jantung
Pemeriksaan jantung untuk mencari pembesaran jantung ditujukan untuk menilai tanda-tnada gagal jantung. Bunyi jantung S2 yang meningkat akibat kerasnya penutupan katup aorta. Kadang ditemukan murmur diastolik akibat regurgitasi aorta. Bunyi S4 (gallop atrial atau presistolik) dapat ditemukan akibat dari peninggian tekanan atrium kiri. Sedangkan bunyi S3 (gallop ventrikel atau protodiastolik) ditemukan bila tekanan akhir diastolik ventrikel kiri meningkat akibat dilatasi ventrikel kiri. Bila S3 dan S4 ditemukan bersama disebut summation gallop.
      5. Paru
Pada pemeriksaan dada mungkin normal atau mungkin termasuk tanda pulmonary congestion, seperti menurunnya suara napas,atau rasa tumpul pada perkusi karena efusi pleura.
      6. Abdomen
Pemeruksaan abdomen meungkin menemukan bruit arteri renal pada pasien dengan hipertensi sekunder terhadap renal artery stenosis.
      7. Ekstremitas
Edema ankle mungkin ada pada pasien dengan gagal jantung parah. Arteri radialis, arteri femoralis, dan arteri dorsalis pedia harus diraba. Tekanan darah di betis harus diukur minimal sekali pada hipertensi umur muda (kurang dari 30 tahun).

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
-          Coronary Artery Atherosclerosis
-          Hypertrophic cardiomyopathy
-          Jantung atlet (dengan LVH)
-          Fibrilasi atrium karena etiologi lain
-          Disfungsi diastolic karena etiologi lain
-          Sleep apnea


DAFTAR PUSTAKA

1.  Riaz, Kamran. Hypertensive Heart Disease. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/162449-overview pada 10 Mei 2010.
2.  Panggabean, Marulam M. Penyakit Jantung Hipertensi. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Ed Ke-5. Jakarta: Interna Publishing, 2009: 1777-8.
3.  Riaz, Kamran. Hypertensive Heart Disease: Differential Diagnoses & Workup. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/162449-diagnosis pada 10 Mei 2010.

Baca selengkapnya