Jumat, 29 Juni 2012

Cinta dan Jodoh Tak Perlu Definisi

Suatu hari, seorang teman berkata kepadaku, "Aku memiliki dua pertanyaan."
Dia berhenti sejenak dan mataku menelusuri wajahnya dengan penuh keingintahuan. Malam itu tak begitu dingin, tetapi kehangatan yang sebenarnya berasal dari orang-orang di sekelilingku. Teman-teman dekatku yang baik hatinya. Kami bercengkerama untuk memanen kenangan sebanyak-banyaknya sebelum (mungkin) tak ada lagi kesempatan dan momen seperti ini.

"Pertama, menurutmu cinta itu apa? Dan kedua, apa yang membuatmu yakin bahwa pasanganmu yang sekarang adalah jodohmu? Mengapa kamu bisa yakin bahwa dialah yang ditakdirkan untuk hidup bersamamu selamanya?"
Aku berkedip-kedip, tak menyangka pertanyaan semacam itu yang muncul. Diam. Aku tak tahu jawabannya. Sungguh, aku tak tahu harus berkata apa. Setelah pertanyaan dilontarkan, semua pasang mata di tempat itu ganti menatapku. Menyelidik, penasaran, tak sabar. Sedangkan aku masih tetap diam, pikiranku menerawang.

Aku sudah berpacaran selama hampir 6 tahun. Tidak sebentar memang, tetapi apakah sudah cukup lama? Tidak juga, aku tidak merasa begitu. Selama bertahun-tahun itu, perjalanan kami tidak mulus, tidak pernah mulus, tetapi tetap bertahan.Aku tahu bahwa perasaan kami sama-sama kuat dan nyata. Tidak ada kepura-puraan atau manipulasi. Siapa juga yang bisa bertahan dengan perasaan palsu selama bertahun-tahun? Yah, namun mungkin saja ada orang seperti itu (seperti seorang pasien dulu yang sempat bercerita tentang ketragisan rumah tangganya-cerita yang tak akan kulupakan seumur hidup), tapi bukan aku. Ataupun dia. Apakah semua rasa yang telah lama kami jalani ini pantas disebut cinta? Apa itu cinta? Pertanyaan klise, tapi jawabannya bisa berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar. Tak ada yang sama. Tak ada yang pasti. Tak ada yang benar ataupun salah. Itulah salah satu keajaiban cinta, definisinya saja sulit ditemukan, berbeda-beda bagi setiap orang. Lalu, apakah waktu 5 tahun lebih ini juga memastikan bahwa kami berjodoh? Benar kata temanku itu, bagaimana aku tahu kami berjodoh? Kalau bukan jodoh, bukannya hubungan ini hanya membuang-buang waktu saja?

Aku menghela napas. Dengan sok bijak-sambil menahan debaran jantung dan memutar otak mencari kalimat yang pas-aku tersenyum dan mulai menjawab.

 "Pertanyaanmu itu sulit sekali. Cinta, ya? Cinta itu apa, aku tak tahu. Jika aku bisa bilang aku mencintai orang tuaku, kakak, dan adikku, semata karena aku merasa tak bisa hidup di dunia ini tanpa mereka. Kalimat tadi maknanya harfiah, aku memang merasa seperti itu karena bagiku keluarga benar-benar nomor satu. Lalu aku mencintai pasanganku karena aku merasa dia melengkapiku. Aku nyaman bersamanya, tak pernah bosan mengulang cerita nostalgia yang sama beratus-ratus kali, tetap menatap matanya dengan antusias meski saat  dia bercerita tentang sesuatu yang membosankan. Aku tak tahu definisi cinta. Namun, aku merasakannya. Nyata. Aku pun tak tahu dia jodohku atau bukan. Bertahun-tahun ini, aku tak pernah tahu. Yang aku tahu, kami sama-sama berusaha keras sekuat tenaga untuk mempertahankan hubungan ini, untuk saling melengkapi, berkompromi, menikmati kehidupan yang terus berjalan. Jika kelak kami berhasil mewujudkan impian kami untuk menikah, saat dia mengucapkan akad, itulah tanda bahwa kami berjodoh. Sebelum itu terjadi, siapa yang tahu? Kami hanya berusaha dan menyerahkan semua keputusan pada-Nya. Lagipula aku selalu berpikir, semua kejadian pasti ada alasan dan hikmahnya. Termasuk bertahun-tahun hubungan kami. Semua pasti ada alasannya, ada manfaat dan hikmahnya. Tinggal tunggu saja, semua pasti ada waktunya. Akan datang jawabannya."


Semua di ruangan itu sekarang tersenyum. Pasti di kepala mereka juga muncul beragam definisi cinta karena mereka juga merasakannya. Semua orang pasti merasakannya. Tak perlu definisi untuk merasakan dan memahami suatu hal. Seperti tak perlu mengetahui definisi cabai untuk merasakan pedasnya, tak perlu memusingkan arti cinta padahal setiap saat kita dikelilingi olehnya. 




Baca selengkapnya

Kamis, 28 Juni 2012

Renungan

Renungan

Tuhan.....
Saat kebimbangan lagi-lagi merengkuhku
Waktu tak kulihat jalan tuh melangkahkan kaki
Aku menangis
Tanpa linangan dan isakan
Hati ini hanya menangis
Saat aku memohon kekuatan
Engkau tak kunjung memberikannya, Tuhan..
Aku hanya bisa menunggu
Terus menunggu, hingga habis batas sabarku
Waktu aku meminta petunjuk
Tetap tak kulihat jalan yang bisa kutapaki
Aku pun menanti
Sampai ku benar-benar lelah
Aku telah menyerah
Tuhan, tanpa harapan ku kembali mengadu
Apakah ku masih punya jiwa?
Ku ingin menghilang


-070207-
Baca selengkapnya
The Girl With The Dragon Tattoo: Rumit, Misterius, Mempesona

The Girl With The Dragon Tattoo: Rumit, Misterius, Mempesona

Aku sudah tertarik dengan film ini sejak pertama kali menonton trailer-nya.
Dalam bayanganku, film ini pastilah sebuah cerita detektif yang seru.
Dan setelah menontonnya sendiri, pikiranku tadi betul sekali!
Aku sangat puas menonton film ini!

Aku suka film ini dari semua sisi.
Tokoh, alur cerita, konflik, kerumitan, dan detail-detailnya bahkan untuk hal yang remeh.
Penokohannya menurutku pantas diacungi ekstra jempol.
Lisbeth Salander dan Mikael Blomkvist.
Siapa yang mengira dua tokoh utama itu akan menjadi sangat menggugah, jenius, begitu sempurna?
Benar-benar penciptanya-sang pemenang award Stieg Larsson-memiliki talenta yang harus diapresiasi.
Lisbeth merupakan seorang tokoh fiksi yang sangat unik, menarik, dan luar biasa (ini berhubungan dengan definisiku tentang kata 'luar biasa' itu; aku menyukai sesuatu yang aneh dan tidak dimengerti orang lain, dan menurutku Lisbeth adalah penggambaran yang pas). Nice! :p
Dan Mikael yang begitu 'biasa' sangat pas bersandingan dengan Lisbeth.
Aura mereka sama-sama kuat, saling mendominasi, bersinergi.

Hal yang membuat film ini lengkap, meski bertemakan investigasi kriminal dan cenderung serius, satu unsur penting yang tak boleh terlewat tetap ada. Unsur yang harus ada dalam film apapun. Apa itu? Tentu saja cinta. 
Benar-benar aku suka, suka sekali film ini.
^_^

Seperti yang sudah kubilang, film ini rumit. Membuatku merasa tertantang, merangsang otakku berputar keras, dan nalarku meraba-raba. Aku suka sekali film yang seperti ini, menunggu untuk ditaklukkan, hehe.
Saking rumitnya film ini, aku sebenarnya belum bisa menggambarkan keseluruhan benang merah dalam ceritanya.
Aku kesulitan menggambarkan pedigree keluarga Varger di kepalaku; mungkin aku akan menggambarkannya secara harfiah di kertas saat menonton film ini untuk yang kedua kalinya. :)
Aku kesulitan menghafal nama-nama seluruh anggota keluarga Varger dan peran mereka masing-masing baik dalam kasus pembunuhan maupun di perusahaan.
Aaku kesulitan mengikuti alur berpikir dan hasil kerja Lisbeth yang bagaikan halilintar; sangat cepat, tajam, akurat, mencengangkan, luar biasa.

  
Ini dia Lisbeth. Keren, kan? 


Aku sibuk menebak-nebak arti detail-detail kecil dan remeh yang justru lebih menarik perhatian.
Contohnya, seperti yang ditulis di judul , Lisbeth memiliki tato naga di punggung atas kirinya, tetapi kenapa? Mengapa tato naga itu penting sampai dibuat menjadi judul?
Pertanyaanku selanjutnya ialah siapa sebenarnya Lisbeth?
Lalu detail pengiriman hadiah pada Henrik, itu sebenarnya kerajinan dari apa?
Hahaha...
Aku tahu pertanyaan-pertanyaan itu remeh, mungkin memang aku yang terlalu banyak bertanya. :)

Cerita dalam film ini menarik, kasusnya cukup menarik.
Dan aku tetap penasaran dan bertanya-tanya hingga akhir cerita. 
Benar-benar sampai akhir. 
Karena gadis bertato naga itu memang benar-benar tak bisa ditebak. 
Sekali lagi, aku suka sekali sesuatu yang tidak bisa ditebak seperti film ini, hehe.
Dan kenyataan bahwa kisah ini menyuguhkan dua klimaks (dua penyelesaian masalah), membuatku bertambah senang.
Ternyata Lisbeth dan Mikael menyelidiki dua kasus sekaligus tanpa mereka sadari.
Penasaran, bukan, apa saja kasusnya? :)


Film ini berat, rumit, tapi bagus sekali.
Cocok ditonton oleh orang-orang yang haus misteri dan ketidakpastian sepertiku, haha..
Salah satu film yang kurekomendasikan. :)
Baca selengkapnya
Vakum

Vakum

Sepertinya sudah lebih dari satu bulan aku tidak menulis di blog ini.
Sangat disayangkan. :(
Bukannya aku tidak mau, bukan pula karena tidak mampu, tetapi terlebih karena aku bingung.

Idealismeku adalah ingin membuat blog pribadi ini menjadi tidak terlalu pribadi.
Tidak ingin aku mengumbar masalah pribadi di hadapan orang-orang, untuk apa coba, tidak ada gunanya, malah membawa banyak keburukan.
Namun, apa pula tulisan bermanfaat, dengan tata cara penulisan yang baik, yang harus kusetor di blog ini?
........................................(berpikir)
...............................(terus berpikir)
.............................(tak ada hasil)
Bingung terlalu lama, menunda terlalu lama, jadilah tidak ada hasil dan blog terbengkalai terlampau lama.

Yah, memang benar kata orang 'jika ingin menjadi penulis, menulislah'.
Kali ini aku sudah bertekad, semoga bisa istiqomah, untuk terus menulis, apapun itu (asal bermanfaat), tanpa Susah-susah lagi memikirkan tema, mengedit, memperbaiki diksi (kebiasaan), dan lain sebagainya.

Aku akan menulis karena aku suka, karena menulis itu sangat menyenangkan.
Seperti Tere-Liye yang juga sepakat denganku.
Ia berkata, "Menulislah karena itu menyenangkan, selalu menyenangkan, terlebih saat kalian memutuskan untuk menemani, menghibur, serta bermanfaat bagi diri sendiri dan, syukur-syukur, banyak orang."
Baca selengkapnya