Sabtu, 17 Maret 2012

Eksentrik Filosofi

Eksentrik Filosofi



Buku ini aku beli dua atau tiga minggu yang lalu. Judulnya sudah sejak lama santer kudengar. Hampir setiap orang yang sudah membacanya berkata bahwa kumpulan cerita ini bagus sekali. Penasaran pula lah aku dibuatnya, hehe...

Aku sangat sangat memprioritaskan membaca buku ini. Begitu sudah di tangan, langsung aku mulai membacanya. Dengan kegiatanku yang sekarang, tidur saja susah, main game saja susah, banyak novel yang kubaca hanya sampai di tengah, Filosofi Kopi berhasil membuatku penasaran dan tertarik untuk terus terus dan terus membalik halamannya. Hanya dalam waktu kurang dari 5 hari (untukku saat ini, 5 hari sudah sangat memecahkan rekor :)) aku pun sampai di halaman terakhir.

Aku pun setuju dengan apa yang selama ini didengung-dengungkan orang tentang Filosofi Kopi.
Aku suka buku ini. Kisah-kisahnya sangat fresh, menarik, dan dieksekusi dengan sangat apik.
Bertambah kagumlah aku dengan dunia imajinasi Dee.
Dulu aku sudah dibuat terkaget-kaget ketika membaca Akar, lalu Rectoverso, dan sekarang ini.

Dee berhasil memberikan kisah filosofis tidak hanya tentang kopi, tapi juga tentang kecoa, cinta lawan jenis, cinta sesama jenis, cinta kekasih simpanan, dan berbagai interpretasi menarik lainnya tentang kehidupan.
Puisi-puisinya pun (entah itu puisi atau cerpen yang kependekan) juga penuh imajinasi dan permainan kata yang bagus.

Kisah favoritku dari kumpulan cerita Dee ini, ialah Rico de Coro.
Menurutku ide kisah itu Luar Biasa!
Aku suka imajinasi, aku tidak suka kecoa, aku jatuh cinta pada kisah Rico de Coro.
Cerita tentang cinta Rico pada seorang anak manusia, kerajaan coro terpelajar di dapur rumah tangga, sang raja yang rajin menonton televisi dan memperoleh banyak pendidikan, serangga mutan hasil percobaan ilmuwan jenius, dan matinya Rico demi menyelamatkan gadis pujaannya, semuanya indah di mataku.
Aku membayangkan, jangan-jangan kecoa yang sering 'kuusir' dari kamar mandi kos juga memiliki kisah seperti itu. Jangan-jangan dia juga memiliki keluarga dan kerajaan di got bawah sana. Jangan-jangan..jangan-jangan....*imajinasingawurhahaha

Lara Lana juga sangat menarik menurutku.
Dari awal, pembaca digiring tanpa sadar mengikuti kisah dua orang sahabat, dengan salah seorang dari mereka yang menyimpan cinta rahasia.
Setiap kalimat, setiap halaman, menuturkan dengan sangat apik persahabatan dua orang itu. Pembaca akan simpati pada salah seorang penyimpan cinta rahasia.
'Lana tinggal seminggu di rumah itu. "Setelah kita mencoba hidup 24 jam x 7 hari dengan seseorang dan tidak merasa bosan, maka orang itu bisa kita nikahi," Lana berteori.'
Ketika membaca itu, hatiku (sedikit) bersorak, wah Lana menyatakan cinta duluan. Hebat. Yah, walaupun aku pendukung sejati kelompok cewek pasif, menyatakan perasaan seperti itu pasti sangat sulit dilakukan dan perlu diapresiasi.
'Mendengar ucapan Lana, dia tertawa sampai berurai air mata, diikuti Lana sampai tercekik-cekik. "Saya tidak mungkin menikahi kamu," dia berceletuk di ujung tawanya. Barulah Lana sadar, mereka berdua tertawa karena alasan yang berbeda.'
Aku pun menjadi sedih karena Lana pasti juga sedih sekali. Kemudian sahabatnya itu malah menikah duluan. Aku sampai mengumpat dalam hati, jahat sekali sih.
Tidak ada kecurigaan. Tidak ada kejanggalan. Setidaknya itulah yang kurasakan.
Karena tidak berpikir aneh-aneh, aku pun terkaget-kaget ketika mendapati fakta sebenarnya yang baru disuguhkan Dee di paragraf ketiga dari terakhir, tentang nama asli Lana yang ternyata adalah Bapak Maulana.
Twist.
Cerita yang apik. Trims Dee. :)

Secara keseluruhan, buku ini termasuk buku yang boleh direkomendasikan.
Bagus untuk teman minum teh di sore hari, bersantai sambil menikmati filosofi berbagai segi kehidupan yang luas dan tak berbatas.

Baca selengkapnya