Kamis, 23 Februari 2012

Belajar Menjadi Bidadari Surga

Belajar Menjadi Bidadari Surga



“Bidadari-Bidadari Surga” adalah novel ketiga yang dibuat oleh Tere-Liye. Penulis berbakat ini kembali merangkai kisah sarat nilai-nilai humaniora seperti pada karya-karya sebelumnya, yaitu “Hafalan Sholat Delisa”, dan “Moga Bunda Disayang Allah”.
Novel ini bercerita  tentang sebuah keluarga tangguh dan figur seorang kakak yang luar biasa. Sang ibu, Mamak Lainuri, sendirian membesarkan kelima anaknya, Laisa, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta, setelah sang ayah meninggal diterkam harimau gunung. Setelah kejadian itu, Mamak Lainuri bekerja keras untuk kehidupan keluarganya. Laisa, ‘anak’ pertamanya, rela putus sekolah dan membantu mamaknya bekerja di ladang di Lembah Lahambay.
Laisa kemudian berjanji pada dirinya sendiri untuk mengantarkan adik-adiknya ke gerbang kesuksesan. Dia tidak ingin mereka menjadi seperti dirinya. Laisa yang keras dan disiplin mendidik adik-adiknya tanpa pernah kenal lelah. Perempuan yang sampai akhir cerita tidak pernah menikah ini selalu mengingatkan dan mendukung adik-adiknya bersekolah dan bekerja keras demi meraih cita-cita mereka.
Akhirnya, Laisa berhasil menghantarkan adik-adiknya ke gerbang kesuksesan. Adiknya yang pertama, Dalimunte, menjadi seorang professor di bidang fisika. Ikanuri dan Wibisana, kakak adik yang tak kembar tetapi kemiripannya melebihi anak kembar, menjadi pengusaha di bidang otomotif. Sedangkan Yashinta, si bungsu, menjadi peneliti di lembaga konservasi alam.
Walaupun sekilas semua tampak sempurna, kenyataan tetap tak dapat ditebak. Sedikit demi sedikit mulai jelas fakta-fakta yang mengagetkan dan menyentuh hati, tentang hubungan sebenarnya Laisa dengan keluarga tersebut, keadaan Laisa, dan masih banyak hal lainnya.
Salah satu kalimat yang sangat menggugah di novel ini adalah saat Laisa berkata kepada adik-adiknya, "...kalian harus selalu bekerja keras, bekerja keras, bekerja keras karena dengan itulah janji kehidupan yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput..."
Kalimat tersebut singkat tetapi memiliki makna yang sangat mendalam.
Begitu pula cerita ini yang dibungkus dengan penulisan yang indah, tidak monoton, dan sarat nasihat hidup. Alur flashback yang digunakan dalam novel ini pun membuat pembaca tak dapat berhenti membaca dari awal hingga akhir cerita. Tema cinta dan persaudaraan yang diangkat terasa kental dan disajikan dengan baik oleh Penulis.
Akan tetapi, penokohan dalam novel ini kurang dilakukan dengan baik, kurang mendetail. Selain itu, di akhir novel, Penulis membuat kesan bahwa kisah ini benar-benar terjadi. Hal itu akan membuat pembaca bertanya-tanya tentang nyata atau tidaknya cerita yang barusan mereka baca. Sayangnya, Penulis tidak memberikan penjelasan lebih lanjut sehingga setelah pembaca menyelesaikan novel ini akan merasakan sesuatu yang mengganjal.
Terlepas dari hal-hal tersebut, novel ini tetap merupakan salah satu novel yang patut dibaca. Pembaca dijamin akan dapat merasakan pergolakan emosi yang kuat sekaligus mengambil berbagai nilai moral yang terkandung di dalamnya. Jika Anda penggemar buku-buku bernilai moral tinggi, segera lengkapi koleksi Anda dan nikmati kisahnya. Selamat membaca! 
Baca selengkapnya

Senin, 20 Februari 2012

Perjalanan Mencari Makna Kehidupan

Perjalanan Mencari Makna Kehidupan



Satu lagi karya Tere-Liye yang menghiasi rak bukuku. Sejak aku membaca Hafalan Sholat Delisa semasa SMA dulu, aku selalu tertarik dengan buku-buku novelis ini.

Seperti novel-novel lainnya, Tere-Liye membawakan nilai-nilai moral yang pekat dalam tulisannya. Kesederhanaan dalam memaknai hidup, hukum sebab-akibat, dan keadilan Tuhan ialah hal utama yang ia bahas dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Tokoh utama kisah ini adalah seorang pria bernama Ray. Nama aslinya (yang diberi orang tua) sebenarnya Rehan Raujana. Namun, karena menurutnya nama tidak penting, jadilah ia sehari-hari dipanggil Ray.
Ray, di masa kanak-kanaknya, harus tinggal di panti asuhan karena yatim piatu. Ia tidak tahu siapa orang tuanya. Masa kecilnya diisi dengan kekerasan Penjaga Panti, hidup serba kekurangan, dan kesibukan merutuk nasib serta mencari kebenaran tentang masa lalunya. Ray cerdas. Ia juga aktif sekaligus paling suka membantah. Ia melakukan perlawanan terhadap kelakuan Penjaga Panti yang selalu kasar dengan mencuri. Ray menjadi pencuri dan puncaknya ialah saat ia kabur dari panti asuhan tempatnya tinggal.

Ia pun menjadi anak jalanan di Terminal Kotanya dan hidup dengan mencuri dan berjudi. Disini diceritakan bahwa Ray selalu memiliki tuah dalam segala ‘perjudian’ di kehidupannya. Ray pun sempat menjadi raja judi dengan memenangkan seluruh uang di sebuah rumah perjudian. Namun, memang kehidupan seperti itu selalu mengandung risiko. Ray pun diserang oleh orang suruhan pemilik rumah judi dengan beberapa luka tusukan di tubuhnya. Entah bagaimana, ia berhasil bertahan hidup.

Setelah sembuh dari luka itu, ia kembali menjalani hidup. Kali ini bukan di kota kecil tempatnya tinggal dulu, melainkan di ibukota. Ia tinggal di Rumah Singgah, tempat ia pertama kali menemukan keluarga dan menyayangi orang lain sebagai keluarga. Namun, kembali musibah menghampirinya. Lagi-lagi karena perbuatan buruk yang ia lakukan, rentetan peristiwa menyedihkan pun datang. Ray kembali hidup sendiri dan tak dinyana, ia terlibat dalam kasus pencurian berlian terbesar ketika itu. ia berhasil. Namun, kembali harus ada korban dari setiap perbuatan buruk yang ia lakukan.

Ray sempat lari dari ibukota ke kota kecil tempat tinggalnya dulu. Ia berniat memulai hidup baru dengan lurus dan baik. Ia pun menjadi pekerja bangunan, sempat menikah, dan akhirnya berhasil menjadi mandor kepala yang sukses. Entah mengapa, peristiwa buruk menghampirinya lagi. Istrinya meninggal, setelah sebelumnya ia kehilangan dua orang calon anaknya.

Ray pun kembali terpuruk. Sendirian. Ia kembali ke ibukota dan menggunakan berlian hasil curiannya dulu untuk membangun imperium bisnis yang menggurita. Hidupnya begitu sukses. Namun makin hari hatinya makin hampa. Ada lima pertanyaan besar dalam hidupnya selama ini yang tidak bisa ia jawab. Yang masih ia cari jawabannya. Lima pertanyaan mengenai keadilan Tuhan atas hidupnya.

Selama hidupnya, Ray tidak pernah berterima kasih pada Tuhan, justru lebih sering merutuk dan mempertanyakan segala hal buruk yang menimpanya. Hanya ketika melihat bulan di malam hari, ia merasakan kebesaran Tuhan yang dapat menciptakan benda seindah itu di dunia. Rembulanlah satu-satunya hal yang menghubungkan Ray dengan pengakuannya atas Tuhan. Hingga di akhir masa hidup Ray, Tuhan berbaik hati mengirimkan penjelasan atas semua pertanyaannya.

Sebenarnya kisah ini diceritakan dengan alur flashback. Di awal cerita, Ray sedang sekarat di umur 60 tahun. Ia melewati sebuah perjalanan spiritual bersama seseorang yang misterius (yang sampai akhir cerita tidak diceritakan siapa). Orang misterius itu menjadi perantara Tuhan untuk menjawab lima pertanyaan besar dalam hidup Ray. Lima pertanyaan yang erat kaitannya dengan makna hidup yang selama ini dicari.
Semua pertanyaan Ray sangat wajar dikemukakan oleh siapapun di dunia ini. Aku pun mungkin akan memiliki pertanyaan yang sama jika memiliki jalan hidup seperti itu. Dan dalam novel ini, Tere-Liye memberikan jawaban yang baik sesuai dengan idealismenya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Ray, Tere-Liye menyampaikan prinsip sebab-akibat. Semua yang Ray lakukan, memiliki akibat dan juga menjadi sebab kejadian lain. Keberadaan dirinya pun menjadi sebab dari jalan hidup orang lain. Kita semua berhubungan dan saling mempengaruhi. Kira-kira itulah intinya. Hidup ini juga sebenarnya sangat sederhana untuk dimaknai. Semua penjelasan yang kita cari sebenarnya sederhana. Kitalah yang harus jeli dalam mencarinya. Selain itu, Tere-Liye juga mengajarkan bahwa Tuhan Maha Adil. Ia selalu adil, hanya dalam bentuk apa keadilan itu datang pada kita, hal itulah yang belum kita ketahui. Aku paling suka pelajaran yang terakhir itu.

Aku selalu merasa Tere-Liye memiliki pemahaman yang baik tentang kehidupan. Dan ia dikaruniai anugrah kepiawaian untuk menyampaikan pemahaman hidup tersebut sama indahnya dengan pemahaman itu sendiri. Itulah alasan utama mengapa aku mau dan suka membaca karya-karya Tere-Liye. Karena setiap selesai membaca karyanya, aku merasa bahagia dan senang. Khasanah pengetahuanku bertambah. Dan nilai-nilai yang aku pelajari dapat dengan begitu praktisnya kuterapkan dalam kehidupan.

Dari semua keindahan novelnya, hanya satu hal yang selalu menggangguku setiap membaca tulisan Tere-Liye. Ia terlalu sering mengulang kalimat. Ia sering sekali mengulang kalimat sampai tiga kali. Mungkin itu memang gaya menulisnya. Mungkin itu juga memberikan keindahan dan penekanan akan makna kalimat. Namun, entahlah. Aku hanya merasa hal itu berlebihan. Sebuah cerita akan indah memang karena ceritanya indah dan pilihan kalimatnya yang indah. Pemotongan kalimat juga akan menambah keindahan itu, tetapi pemotongan kalimat berbeda dengan pengulangan.

Novel ini cukup patut dibaca bagi yang menyukai tulisan yang mengalir, tidak berat, tetapi sarat makna. Bacalah. Cari tahu apa lima pertanyaan Ray dan jawabannya. Bersiaplah mengikuti petualangan spiritual Ray yang mungkin akan berguna untuk menjawab lima pertanyaan besar dalam hidup kita sendiri!


Baca selengkapnya