Minggu, 10 Maret 2019

Bunga Penutup Abad: Apik, Melenakan

Bunga Penutup Abad: Apik, Melenakan

Berawal dari postingan seorang teman di Facebook yang mengatakan bahwa Tetralogi Buru akan dipentaskan di teater. Hati langsung deg-degan, kaget campur senang. Aku ingin sekali menontonnya. Ketika itu, keempat novel Pramoedya itu sudah kutamatkan dan aku sangat terpesona dengan kisahnya.
Langsung kucoba mencari tiketnya, tetapi belum ada. Sekian lama menanti, tak ada informasi apa-apa, sampai-sampai aku hampir melupakannya. Suatu hari, tiba-tiba suami tercinta berkata, "Sudah ada ni tiketnya Bunga Penutup Abad. Jadi mau nonton?"
Aku menatapnya beberapa saat, "Kok bisa? Tau dari mana?"
Setelah kupastikan bahwa info itu valid, tanpa ba-bi-bu, aku berkata, "Aku mau nonton. Boleh, Mas?"
Aku bertanya, karena harga tiketnya tidak murah. Dan kalau jadi menonton, berarti kami harus menginap semalam di Jakarta. Biaya tambahan lagi, bukan? Suamiku tersenyum santai sambil menjawab, "Ya ayo, kenapa gak? Mau kelas apa?"
Betapa aku mencintai suamiku ini (gombal :D).

Jadilah tanggal 25 Agustus (2016) kemarin, kami berkencan berdua saja ke Jakarta. Riri kami tinggal semalam bersama babysitter-nya. Tidak apalah sekali-sekali, hehe.
Ekspektasiku sangat tinggi terhadap pertunjukan ini. Novel Pramoedya bukanlah cerita yang mudah diangkat ke pementasan teater. Ceritanya kompleks, penokohannya kuat, nilai-nilai yang ingin disampaikan sangat banyak. Walaupun yang akan bermain adalah aktor/aktris sekaliber Reza Rahardian, Chelsea Islan, Lukman Sardi, dan Happy Salma, tetap saja panggung teater berbeda dengan dunia perfilman.

Pertunjukan diadakan di Gedung Kesenian Jakarta. Karena memang tempat duduknya terbatas, jadi rasanya di lobi gedung tidak begitu padat. Orang-orang masih cukup leluasa lalu-lalang atau berfoto-foto. Ada juga beberapa stand makanan (yang ternyata setelah beli, tidak boleh dibawa ke dalam, hehe).
Sekitar pukul 19.40, pintu gedung dibuka. Aku dan suami mulai masuk. Kami beli tiket VIP jadi tempat duduk cukup di depan, alhamdulillah. Ruangannya bagus dan nyaman, seperti ruang pertunjukan teater kebanyakan, dengan balkon juga. Coba tiket di balkon dijual, mungkin aku akan beli di situ (kaya kebanyakan duit aja, hehe).
Banyak juga artis yang datang menonton. Kami melihat Sherina, Ari Dagienkz (duduk di sebelahku), Marcella Zalianty, dan Tompi (sebagai fotografer). Mungkin ada juga yang lain tapi tidak kelihatan.
Gong dibunyikan sekitar pukul 20.00, sesuai jadwal. Pembawa acara memberikan pembuka yang tidak begitu panjang, berisi apa-apa yang harus dilakukan pengunjung dan sinopsis singkat.
Pertunjukan pun dimulai.

Kerangka cerita yang digunakan ialah surat-surat Panji Darman yang dikirimkan selama menemani Annelies ke Belanda. Seiring datangnya surat demi surat, kisah beralur maju mundur membawa penonton ke masa awal pertemuan Minke dengan Annelies, pernikahan mereka, hingga masalah pengadilan yang merenggut Annelies dari ibu dan suaminya.
Adegan dibuka dengan Minke yang sedang membacakan surat pertama Panji Darman pada Nyai. Annelies telah berangkat, dan tidak lagi mempunyai perhatian pada sekitar. Sakit keras Annelies telah dimulai. Minke dan Nyai pun masih menjadi tahanan rumah, dan keadaan berlanjut sampai beberapa minggu. Minke pun mengingat kembali saat-saat pertama bertemu Annelies. Berkenalan, berbincang, mencium, diperkenalkan dengan Nyai, mencium kembali, dan menjadi akrab.
Setelah status tahanan rumah dihapus, Minke pun berjalan-jalan menemui sahabatnya, Jean Marais, yang sedang mencoba menyelesaikan lukisan Annelies. Mereka mengobrol banyak, dan mungkin tanpa disadari, kata-kata Jean Marais di momen inilah, yang akhirnya menggugah Minke untuk memberi perhatian lebih pada bangsanya, untuk akhirnya menjadi pemikir terdepan dan lidah bagi bangsanya.
Surat Panji Darman datang lagi, Keadaan Annelies masih sama. Panji Darman berusaha memperkenalkan diri, tetapi entah berhasil entah tidak.
Surat Panji Darman lagi. Annelies bertambah sakit. Panji Darman dipanggil ke biliknya oleh perawat dan dokter berwenang, untuk ikut serta merawatnya. Kesempatan yang dipergunakan sebaik-baiknya oleh lelaki ini untuk melaksanakan tugasnya.
Jean Marais datang ke rumah bersama anaknya, May, untuk melukis Nyai. Mereka pun berkenalan, mengobrol banyak. Sering juga digoda oleh Annelies yang bertanya, "Kapan aku diberi adik?", disambung pula candaan dari Minke. Pada adegan ini, digambarkan betapa mereka berbahagia, mereka sangat berbahagia. Bercengkerama, bercanda, menyanyi, menari. Tidak ada yang menyangka kebahagiaan itu akan sirna dengan cepat.
Surat Panji Darman lagi. Annelies hampir tidak bergerak. Sekali ia tampak sadar dan berbicara, ialah untuk mengatakan, "Jadilah kau teman bagi suamiku."
Suatu hari, tanpa diduga, datang seseorang bernama Ir. Maurits Mellema ke Wonokromo untuk bertemu dengan Tn. Herman Mellema, ayah Annelies. Nyai pun menguping pembicaraan mereka. Tak disangka, ternyata sang tamu ialah anak Tn. Herman Mellema dari istri sahnya di Belanda. Ia datang untuk meminta jatah dari harta perusahaan Wonokromo. Nyai yang marah besar mengusirnya dari rumah. Tentu sebagai wanita yang berpendidikan, Nyai meminta suaminya untuk melegalkan pernikahan mereka di Kantor Catatan Sipil. Tapi Tn. Herman Mellema tidak mau, tanpa alasan, marah untuk pertama kalinya dalam rumah tangga mereka, lalu pergi meninggalkan rumah. Setelah itu, hubungan Nyai dan suaminya menjadi dingin. Tn. Herman Mellema jarang pulang, dan tenyata diketahui bahwa ia menghabiskan hidupnya di tempat pelacuran. Tempat yang sama dimana ia ditemukan meninggal, terbunuh. Inilah awal dari semua permasalah berat yang akan terjadi.
Ir. Maurits Mellema meminta hak harta warisannya, dengan hanya mengikutsertakan Annelies dan kakaknya. Nyai tidak dianggap, hanya karena ia pribumi. Padahal Nyailah yang mengurus perusahan besar itu sendirian selama 20 tahun. Tidak dianggap sama sekali, hanya karena ia pribumi.
Minke pun sama, tidak ada nilainya di mata hukum Belanda. Pernikahannya dengan Annelies yang sah secara Islam pun tidak diakui. Hanya Belanda yang dianggap ada oleh Belanda. Sungguh kejam.
Surat Panji Darman lagi. Mereka telah sampai di Belanda. Yang menjemput Annelies adalah seorang nenek tua, bayaran Amelia Mellema, tidak ada keluarga Mellema yang menjemput. Kasihan.
Akhirnya Annelies dipanggil ke pengadilan putih. Hanya untuk diberitahu bahwa ia dianggap tidak punya ibu, tidak punya suami. Walinya ialah Ir. Maurits Mellema. Jadi, sebelum Annelies cukup umur menurut hukum untuk dapat mengelola harta warisan ayahnya, ia akan berangkat ke Belanda untuk berada di bawah pengawasan walinya, sampai cukup umurnya. Guncangan yang sangat besar bagi keluarga Wonokromo, terutama untuk jiwa Annelies yang rapuh. Perempuan rupawan ini jatuh sakit, jiwanya terguncang, ia tidak ingin sadar dan tidak ingin menyadari masalah di hadapannya.
Surat Panji Darman lagi. Ia mencoba mengkonfrontasi Amelia Mellema, tapi tidak berguna. Annelies sudah tidak bergerak, tidak bisa makan ataupun minum. Panji Darman amat khawatir akan keadaannya.
Menjelang keberangkatannya, Annelies meminta kopor tua milik ibunya. Ia akan berangkat ke Belanda hanya dengan kopor kulit tua itu, dan kain batikan Bunda, mertuanya tersayang. Annelies sadar ia pergi bukan untuk kembali. Ia akan pergi dari Wonokromo untuk selama-lamanya. Ia melangkah keluar rumah diiringi tangis dan ratapan ibu dan suaminya yang tidak berdaya membelanya, tidak mampu melawan kesewenang-wenangan Belanda yang tidak manusiawi.
Surat Panji Darman. Membawa berita buruk. Berita kematian Annelies.

Sebuah pertunjukan yang luar biasa. Hampir tanpa cela.
Akting semua pemainnya bagus sekali, sangat berkualitas, kecuali pemeran May karena mungkin dia memang masih anak-anak.
Reza, Happy, Chelsea, Lukman, semuanya luar biasa. Ekspresinya tepat, permainan nada dan penekanan kalimat, gesture dan olah tubuh, interaksi antar pemain, emosi, semua ditampilkan dengan sangat baik. Mereka mampu menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel dengan sangat apik.
Aku, yang sudah berekspektasi tinggi ini, sama sekali tidak kecewa. Tidak sedikitpun.
Minke, ya seperti yang diperankan Reza Rahardian itulah Minke yang kubayangkan ketika membaca Tetralogi Buru. Gaya berjalannya, posturnya, bahkan keragu-raguannya jika berdiskusi dengan Nyai.
Annelies, ya seperti Chelsea Islan lah mungkin kecantikannya bisa digambarkan. Kalimat-kalimat dari mulutnya selalu lembut, agak terbata, manja, ceria, sekaligus rapuh.
Jean Marais, posturnya bisa digambarkan seperti Lukman Sardi, logat berbicaranya juga. Hanya ada satu yang menggangguku dari Lukman, yaitu suaranya yang kadang kurang keras, jadi tidak terdengar.
Lalu Nyai Ontosoroh, yang diperankan Happy Salma. Luar biasa, dari adegan pertama Happy duduk bersandingan dengan Reza, hanya dari postur tubuh dan ekspresi wajahnya, aku yakin dalam hati bahwa inilah Nyai Ontosoroh jika memang ada di dunia ini. Akting Happy menurutku adalah yang paling apik dari semuanya. Dia adalah satu paket keseluruhan dari Nyai Ontosoroh. Gaya berjalan, nada dan penekanan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh, semuanya baik sekali. Beberapa kali memang Happy kutangkap salah mengucapkan dialog. Hampir tidak kentara karena dia menutupinya dengan sangat baik (suamiku juga tidak menyadari), dan kesalahan-kesalahan kecil itu jadi tidak berarti setelah melihat keseluruhan aktingnya.
Dari segi setting tempat, pencahayaan, bahkan musik (musiknya orkestra asli, lho), semuanya baik dan saling mendukung. Properti juga cukup bagus dan menggambarkan keadaan latar (tempat yang dipilih adalah rumah Wonokromo). Dari segi kostum juga sangat mendukung jalannya cerita. Ada proyektor juga yang menyorotkan gambar-gambar bunga atau foto Annelies ke dinding properti, sehingga tidak terlihat kosong dan mendukung suasana.
Kesimpulannya, semua orang yang terlibat dalam pementasan ini telah melakukan tugas mereka masing-masing dengan sangat baik dan profesional.
Harga tiket yang tidak murah, ditambah pengorbanan untuk datang dan menginap di Jakarta, atau pengorbanan-pengorbanan penonton lain yang mungkin lebih besar dari kami, semua sepadan dengan hasilnya. Apa yang kami saksikan dan nikmati malam itu, sangat memuaskan jiwa dan membuat kami (terutama aku) bahagia.

Semoga akan dibuat lagi pertunjukan serupa dari novel Pramoedya lain, atau dari karya penulis lain. Pertunjukan serupa dengan kualitas yang sama. Jika saja ada lebih banyak pementasan seni seperti ini di seluruh penjuru Indonesia, dan lebih banyak orang yang berminat menontonnya, mungkin bangsa ini akan lebih dapat mengingat budayanya sendiri dan menjadi lebih beradab. Mungkin bangsa ini akan menjadi lebih baik. :)
Baca selengkapnya

Sabtu, 09 Maret 2019

Berkembang Bersamamu

Berkembang Bersamamu

Beberapa hari yang lalu, saya bercengkerama santai bersama suami, membicarakan hal-hal remeh yang menyenangkan. Tiba-tiba dia berkata, "Alhamdulillah kita bisa seperti ini sekarang, gak nyangka ya, kita bisa bertumbuh bersama."
Aku tersenyum menanggapinya.

Saya mengenal suami saya ketika kami masih kelas X (kelas 1 SMA). Bermula dari kegiatan kemah pramuka, lalu kami satu organisasi di OSIS dan Dewan Ambalan. Dia mulai mendekati saya dan kami berpacaran (sembunyi-sembunyi, hahaha..) sejak kelas XI. Hubungan kami yang hampir berakhir menjelang kuliah, ternyata bisa berlanjut. Saya kuliah di Jakarta dan dia di Bandung. Kami menjalani hubungan jarak jauh selama 5 tahun sebelum akhirnya menikah menjelang hubungan kami berulang tahun ketujuh.

Sekian lama kami bersama, sekian lama kami belajar saling mengenal dan memahami. Dan sungguh, kami telah merubah satu sama lain. Jika ada yang mengatakan bahwa mengubah orang itu hal yang mustahil, maka saya bisa bilang bahwa itu salah. Mengubah sifat seseorang bukanlah hal yang tidak mungkin, hanya sangat sulit dilakukan karena dibutuhkan usaha keras dari kedua belah pihak. Saya adalah buktinya, kami adalah buktinya.

Saya menjadi orang yang lebih baik bersamanya.
Mungkin terdengar klise, tapi ini kenyataan. Dan tentu saja saya bisa mengatakan ini setelah berubah, saya bisa mengatakannya sekarang saat melihat ke belakang. Dulu saya memiliki emosi yang tinggi, keras kepala, dan banyak sifat buruk lainnya. Suami mengajari saya untuk sabar, menjadi lebih pemaaf, dan banyak sifat lain yang dia ajarkan. Apakah saya seorang murid yang patuh? Tentu tidak, saya pembangkang. Lalu bagaimana suami bisa mengubah saya? Karena dia memulai semuanya dengan mencintai saya. Hatinya menyentuh hati saya. Saya tidak tahu kenapa dia memilih saya, tetapi ketika saya menyadari bahwa ada orang yang sudah menunjukkan ketulusan, saya pun meneladaninya.

Suami pun bukan orang yang sempurna, bisa dibilang kami sangat bertolak belakang. Mungkin justru karena itulah Yang Di Atas mendekatkan kami. Agar kami saling belajar, agar kami menjadi lebih baik. Berkali-kali suami bilang bahwa tidak ada orang yang sempurna. Saya pun mulai belajar menerima dia dengan berbagai kekurangannya, Suami tentu sudah sejak awal melakukannya. Dan ternyata karena kami saling mencintai, kami mulai saling mengoreksi, mulai saling mengubah, agar satu sama lain menjadi lebih nyaman. Agar kami sama-sama bisa saling membahagiakan.

Cinta itu menyakitkan.
Cinta itu menyembuhkan.
Tentu karena dunia selalu diwarnai hitam dan putih, saling bersanding.
Kami dua orang yang berbeda, diberkahi dengan waktu untuk bersama, waktu untuk bergandengan tangan menyambut masa depan.
Jadi, mengutip kalimat dari Tulus, "Jangan cintai aku apa adanya..."
Karena aku ingin terus berkembang bersamamu, jadikan aku manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi...
Baca selengkapnya

Kamis, 29 Maret 2018

Cahaya Syukurku

Cahaya Syukurku

Sekitar dua minggu yang lalu, masa sekolah saya akhirnya jatuh ke titik yang rendah. Cukup rendah sehingga saya merasa depresi, putus asa.

Waktu itu saya harus menyelesaikan dua tugas besar dalam waktu yang hampir bersamaan, tugas besar yang sulit. Saya harus maju presentasi kasus dan beberapa hari setelahnya harus mengumpulkan abstrak case series untuk salah satu kegiatan simposium nasional. Sudah berhari-hari saya kurang tidur menyelesaikan naskah-naskah itu dan mungkin diperparah dengan saya yang tetap saja ingin memberikan yang terbaik alias perfeksionis. Saya tetap ingin sebisa mungkin hasilnya sesuai dengan 'standar saya'.

Namun, bukan kesedihan atau penderitaan yang ingin saya ceritakan disini. Saya justru ingin bercerita bahwa di balik semua itu, ada peristiwa yang membuat saya sangat mensyukuri kemurahan Allah.

Di suatu malam sekitar pukul setengah tiga pagi, saya yang depresi karena naskah kasus belum fix sedangkan tiga hari lagi harus melakukan presentasi, rebahan di samping anak saya yang tertidur. Riri-anak perempuan saya yang belum genap empat tahun- sudah beberapa kali bangun malam itu, mungkin karena merasa bahwa bundanya tidak ada di sampingnya. Setiap terbangun, dia tidak menangis, hanya memanggil saya untuk menemaninya tidur lagi.

Ketika saya sedang menerawang sambil menangis diam karena sedih dan lelah, Riri terbangun lagi. Dia melihat saya kemudian berkata, "Bunda kenapa?"
Saya diam saja dan tetap menangis. Saya betul-betul merasa lelah dini hari itu, entah mengapa.
Riri lalu berkata lagi, "Bunda jangan sedih ya, jangan nangis lagi, nanti ayah pulang terus obatin bunda. Sini dedek peluk dulu,"
Ia lalu memeluk saya dengan erat walaupun saya yakin ia tidak mengerti permasalahannya sama sekali. Subhanallah, saya tidak bisa berkata-kata, hanya bisa mencium dan memeluknya dengan penuh rasa syukur. Rasanya hangat sekali hati ini. Betapa saya sangat mensyukuri pertolongan Allah malam itu.

Allah telah memberikan pada saya banyak sekali nikmat.  Bagi seorang residen perempuan seperti saya, banyak tantangan yang harus dihadapi semasa sekolah, salah satunya adalah soal anak. Namun, Allah telah menjaga anak saya dengan sebaik-baik penjagaan-Nya. Allah jadikan ia anak yang solehah, sehat, dan bisa mengerti (entah bagaimana) tentang rutinitas saya.

Sejak saya mulai sekolah, Riri selalu bangun ketika saya bangun, untuk pindah tidur bersama babysitter-nya. Ketika saya sudah tidak kuat menggendongnya, dia harus berjalan sendiri. Betapa hebatnya ia, karena ia hampir tidak pernah menangis. Mau saya bangunkan jam setengah 5, jam 4, bahkan pernah setengah 4 karena saya harus berangkat sangat awal. Riri tidak sulit dibangunkan, tidak merengek, dan bisa diberi pengertian. Jika saya mendapat tugas jaga dan saya menelponnya dari rumah sakit, ia juga tidak menangis atau merengek. Jika saya pulang kerja, ia akan menyambut saya dengan berlari memeluk saya.

Dan setelah segala kemurahan yang Ia berikan, malam itu saya menyesal karena telah 'lemah'. Mungkin saya memang stres dan lelah secara fisik, tapi sejatinya Ririlah yang seharusnya paling menderita karena keputusan saya bersekolah. Ia yang kehilangan banyak hak atas waktunya bersama saya dan ayahnya (yang bekerja di lain kota). Dan sebagai orang yang seharusnya paling dirugikan, ia malah bisa menyemangati dan menenangkan saya dengan caranya sendiri. Seketika pula saya menjadi malu, malu pada-Nya karena telah 'lupa' pada kemudahan yang selalu diberikan. Di balik segala kesulitan selalu ada kemudahan.

Riri adalah cahaya saya, cahaya hati kami. Terima kasih karena selalu menjadi penenang dan penyemangat Bunda. Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam penjagaan-Nya yang terbaik.
Baca selengkapnya

Kamis, 05 Oktober 2017

Terima Kasih, Kematian...

Terima Kasih, Kematian...

Kematian.
Mungkin ini adalah salah satu bagian hidup yang ada di sekitar kita, tapi tidak begitu disadari.

Namun, kami para dokter, dalam kehidupan sehari-hari kami, sangat dekat dengan kematian. Saya, khususnya, akhir-akhir ini, merasa selalu dikelilingi hawa kematian.

Saya baru saja keluar dari stase yang khusus menangani pasien anak dengan kanker. Kita tentu sering mendengar bagaimana kanker itu. Mengerikan, menyakitkan, menakutkan. Namun, percayalah, apa yang kalian dengar, sebegitu terasa nyatanya itu, belum mendekati kepahitan yang sebenarnya, yang sebenar-benarnya jika kalian berada langsung di sekitar anak-anak itu.

Aku pun bukan keluarga mereka. Aku adalah dokter mereka. Namun, dengan mengurusi mereka setiap hari, bertemu mereka setiap pagi, melihat perubahan kondisi mereka dari yang baik, menjadi buruk, baik kembali, lalu tiba-tiba menurun drastis dan dalam waktu singkat menghembuskan napas terakhir, cukup untuk meruntuhkan hatiku. Dan ini terjadi berkali-kali, hanya dalam kurun waktu 3 bulan aku berada di bangsal kanker anak ini.

Seorang anak lelaki, sebut saja Y, 6 tahun, menjadi salah satu pasienku saat pertama kali dia mengalami keluhan yang mengantarkannya ke diagnosis kanker. Saat itu, leukositnya di atas 100.000, hiperlekositosis kami mengatakannya. Dia tampak biasa waktu itu, kondisinya terbilang stabil. Lalu dimulailah perawatan yang cukup panjang sekaligus untuk penegakan diagnosis.

Setiap pagi aku melihatnya, setiap pagi aku menyapanya untuk menanyakan keluhannya, dari dia yang begitu cengeng jika bertemu dengan dokter berjas putih, sampai dia terbiasa dan menatapku tanpa senyum, lalu dia akhirnya sudah menjadi lebih biasa lagi dan sering tersenyum. Diagnosisnya pun sudah tegak, Leukemia. Kami pun memulai serangkaian proses kemoterapi.

Saat dia menyelesaikan siklus pertamanya dan diijinkan pulang, dia menyambutku dengan senyum yang sangat lebar pagi itu, menyapaku, meminta agar cepat pulang, juga meminta nomor handphoneku. Aku merasa dekat dengannya, senyumnya yang lebar itu selalu bisa menyentuh hatiku. Bagaimanapun aku berusaha menjaga perasaan untuk selalu profesional, karena kami diajarkan untuk berempati, bukan simpati. Rasa simpati berisiko mengaburkan penilaian klinis kami dan membuat pengobatan menjadi kurang rasional. Namun, aku manusia biasa. Dari sekian banyak pasien, dia salah satu yang kurasa dekat di hati, betapapun aku berusaha untuk tidak memperlihatkannya.

Lalu Anak Y pun pulang. Selang satu minggu dia muncul kembali untuk memulai siklus kemoterapi selanjutnya, semua berjalan lancar dan dia masih ceria, tersenyum padaku. Siklus ketiga pun juga sama lancarnya. Menjelang jadwal kemoterapi siklus keempatnya, di suatu siang ketika aku sedang sangat sibuk karena pekerjaan di bangsal luar biasa banyak, ibunya menelponku. Mengatakan bahwa Y jatuh dari motor dan kepalanya berdarah. Aku sekilas hanya heran, kenapa anak besar bisa jatuh sendiri dari motor, waktu bapaknya sedang antri mengisi bensin pula. Tapi karena sedang sibuk, aku hanya mengatakan jika lukanya lebar, dibawa saja ke IGD, nanti pasti akan ditangani sesuai keparahan penyakitnya.

Ternyata Y dirawat karena luka di kepalanya perlu dijahit. Kebetulan jadwal kemoterapinya sudah dekat, jadi setelah kondisi kepalanya membaik, kami pindahkan dia ke bangsal kami untuk menjalani kemoterapi lagi. Lagi-lagi dia menjadi pasienku. Namun, dari awal, dia tidak memperlihatkan senyumnya, dia menjadi lebih rewel seperti ketika awal masuk. Makin hari, kondisinya makin turun, tubuhnya menjadi bengkak, napasnya sesak. Ternyata dia mengalami komplikasi, di samping penyakit kankernya. Komplikasinya cukup berat, menyerang paru, ginjal, dan dia juga mengalami infeksi sistemik.

Setiap aku memasuki kamar bangsal tempatnya dirawat, aku merasakan keengganan yang sangat. Aku tidak ingin melihatnya dalam kondisi seperti itu. Dalam hati, sebagai dokter, aku sudah tahu prognosisnya. Kami sudah sangat sering melihat pasien dengan perburukan kondisi seperti ini sampai kami bisa 'merasakan' bahwa waktunya sudah dekat. Aku menyebutnya feeling. Setiap pagi aku melihat kondisinya, setiap itu pula ada bisikan di hatiku, "Ini tidak akan lama lagi, tidak lama lagi." Aku hanya bisa mengusap kepalanya dan mengirimkan doa dari hati.

Dia meninggal di bawah pengawasanku, dia ditegakkan diagnosisnya di bawah perawatanku, dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan. Singkat sekali.

Aku juga seorang ibu.
Bagaimana perasaan para ibu yang harus merawat anak-anak mereka yang didiagnosis kanker, membayangkannya saja aku tidak berani. Membayangkan mereka harus berada di rumah sakit dalam waktu lama, melihat satu per satu pasien di sekitar mereka meninggal dan terus berada dalam kecemasan apakah anak mereka akan menjadi yang selanjutnya. Aku pernah mendengar suatu kalimat yang mengguncang hati, tetapi aku lupa dari mana. Kalimat itu berbunyi, "Tidak seharusnya seorang anak meninggal mendahului orang tuanya. Tidak seharusnya."

Sekarang aku sudah pindah dari bangsal kanker itu. Namun, tetap saja, setiap hari kami harus mengoperkan pasien sebelum jaga dan aku setiap hari harus memasuki kamar yang penuh kematian itu. Sampai saat ini, sampai sore ini pun aku masih merasakan kesedihan saat memasuki kamar tempat Y dan teman-temannya pernah kurawat.

Betapa mereka dekat di hatiku. Mungkin mereka tidak sadar, mungkin para orang tua mereka juga tidak sadar. Namun, mereka telah mengajarkan begitu banyak hal padaku. Tidak hanya ilmu kedokteran, tetapi juga aspek-aspek lain kehidupan, yang menurutku sama pentingnya dengan aspek perawatan medis. Mereka memberikanku pengalaman nyata dan sangat berharga melalui penyakit mereka, keikhlasan mereka untuk mau dirawat oleh kami.

Terima kasih.
Baca selengkapnya

Selasa, 15 November 2016

Pengalaman Menjelang Kematian; Sebuah Autobiografi

Buku ini menarik perhatianku karena tulisan "21 MINGGU DI PUNCAK NEW YORK TIMES BEST SELLER". Cukup spektakuler, bukan? Apalagi melihat sampul bukunya yang memajang orang dengan baju operasi. Ternyata buku ini merupakan autobiografi seorang dokter spesialis bedah saraf di Amerika. Tentu saja aku tak berpikir dua kali untuk membelinya.


Kisah dalam buku ini adalah kisah hidup Paul Kalanithi, seorang dokter yang sedang dalam tahap menyelesaikan pendidikan spesialis bedah saraf di Stanford. Dia nyaris menyelesaikan masa pelatihan super panjangnya selama 10 tahun ketika hidupnya digoncang bencana.
Semua berawal dari sakit punggung, yang terus dia abaikan dan obati sendiri. Semua dokter di dunia, termasuk aku, pasti akan melakukan hal yang sama seperti Paul. Mendiagnosis gejala yang dialami diri sendiri, mengambil kemungkinan paling ringan dari kemungkinan paling buruk yang ada di otak, meminum obat, dan berusaha melupakannya. Mayoritas kami, para dokter beruntung, dan bersyukur karena diagnosis ringan itu benar. Berharap tidak akan datang lagi gejala berulang dan kembali fokus pada kehidupan pasien-pasien yang harus kami selamatkan. Tentu saja kehidupan mereka tampak lebih berharga dibandingkan hidup kami saat itu, karena mereka jelas-jelas sedang sakit, bukan? Menjadi begitu dekat dengan kematian dalam kehidupan sehari-hari memang semakin menimbulkan rasa sayang kami pada pasien, tapi menumpulkan perasaan yang sama terhadap diri sendiri.
Persis seperti itulah yang dialami Paul.
Sayang, sakit punggung Paul ini ternyata bukan sesuatu yang sederhana. Makin lama sakitnya makin hebat, yang terus pula ia paksakan untuk menahannya demi pasien-pasiennya. Paul adalah dokter bedah saraf yang sangat mahir dan terampil. Banyak sekali pasien yang menggantungkan hidup padanya. Karena itulah, Paul bertekad untuk terus bekerja selama ia masih mampu. Walau selama kurun waktu itu, ia sudah menduga-duga penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuhnya.
Akhirnya, seperti yang sudah dapat diperkirakan, ketika akhirnya Paul memeriksakan diri, kondisinya sudah terlambat. Kanker paru-parunya sudah berada di stadium lanjut dan rasa sakit di punggung yang ia rasakan jelas merupakan metastasisnya.
Paul dan Lucy, istrinya yang seorang dokter penyakit dalam, tentu tahu apa prognosis penyakit ini. Hampir tidak ada jalan menuju kesembuhan. Tidak ada. Remisi mungkin bisa dicapai, tapi relaps kanker itu lebih mungkin lagi terjadi.
Pandangan hidup Paul pun berubah. Sebelumnya, ia baru berniat 'memulai' hidup berumah tangga yang 'normal' bersama Lucy setelah ia menyelesaikan pendidikannya. Ia akan memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak, membeli rumah, membangun karir, memiliki anak. Namun, ketika kata 'akan' itu mungkin tidak akan pernah datang, apa yang harus ia lakukan?
Paul banyak bercerita tentang pemikiran-pemikiran yang mendasari pengambilan keputusan dalam hidupnya. Ia menceritakan perubahan pola pikirnya dari dokter menjadi pasien, dari seorang suami menjadi keinginan menjadi seorang ayah.
Walaupun Paul sempat mendapatkan remisi dalam masa sakitnya, dan berhasil menyelesaikan pendidikannya, kanker itu muncul lagi. Kali ini pengobatan tidak memberi banyak perubahan. Namun, ia telah memiliki anak perempuan, Cady, yang sangat membuatnya bahagia. Ia juga menghabiskan seluruh waktunya bersama keluarga, yang membuatnya semakin memaknai hidup.
Akhirnya, Paul pun meninggalkan dunia ini, dengan buku yang belum selesai mengisahkan perjalanan hidupnya.

Buku ini cocok dibaca bagi yang menyukai pengalaman bertukar pikiran dengan orang lain. Banyak pemikiran mendalam yang Paul kemukakan dalam buku ini, terutama tentang kehidupan dan kematian, bagaimana cara terbaik untuk memaknainya.
Sebenarnya tidak terlalu banyak yang berkesan di hatiku setelah membaca buku ini. Aku orangnya tidak begitu filosofis dan tidak begitu suka sesuatu yang berbau filsafat. Mungkin karena aku dokter, dan merasa sedikit banyak mengerti bagaimana berdiri di kedua kaki Paul, perasaanku lebih didominasi kesedihan karena seorang dokter harus mengalami kematian tragis padahal seluruh hidupnya dicurahkan untuk pasien.
Karena jenisnya autobiografi, aku rasa tidak ada yang bisa dikomentari mengenai gaya penulisannya (karena aku meyakini bahwa cara bertutur setiap orang itu unik. Coba saja bandingkan dengan Habibie Ainun atau Ganti Hati). Intinya, memang banyak nilai-nilai kehidupan berharga yang bisa dipetik dari buku ini. Boleh dijadikan salah satu koleksi.
Baca selengkapnya

Senin, 14 November 2016

Nyonya Jetset: Cermin Kehidupan Sosialita

Akhir-akhir ini aku sedang banyak waktu luang, jadi bisa lumayan rutin membaca novel.
Cukup membahagiakan di satu sisi. Di sisi lain, aku sebenarnya merasa agak pengangguran, hehe.

Novel yang akan aku ulas kali ini berjudul Nyonya Jetset karya Alberthiene Endah.
Sebenarnya ketika pergi ke Gramedia minggu lalu, niat utamaku bukanlah membeli buku ini. Namun, karena novel yang ingin kubeli itu cukup berat, aku memilih satu buku lain sebagai 'jeda'. Kebetulan saat itu novel Alberthiene Endah banyak berjejer di etalase, dengan judul-judul yang senada dan cukup menarik. Jadilah aku memilih salah satunya.


Buku ini menceritakan kisal hidup Roosalin, yang menikah dengan anak konglomerat bernama Edwan Krisantono.
Konglomerat yang dimaksud bukan yang abal-abal, tapi benar-benar kalangan sosialitanya sosialita. Padahal Roosalin hanya model biasa dengan orang tua yang biasa-biasa saja. Ayahnya dosen, ibunya ibu rumah tangga, adiknya mahasiswa, dan mereka semua tinggal di rumah sederhana di kawasan Manggarai.
Ketika Edwan melamarnya, Roosalin seperti mimpi. Dan ketika pernikahan itu benar-benar terjadi, ia merasa menjadi putri di negeri dongeng. Ia kegirangan karena tiba-tiba menjadi istri konglomerat, kaya raya, tinggal di rumah bak istana di kawasan Pondok Indah, kemana-mana diantara sopir dengan BMW, membeli tas-tas dengan harga selangit (Gucci, Hermes, dan merek lain yang aku sebenarnya tidak pernah dengar :)), dan segala kemewahan lain.
Semua terasa sempurna karena ia dan Edwan saling mencintai, ditambah segala kekayaan itu. Sikap Edwan pun awalnya tidak menunjukkan keanehan. Namun, memang tidak ada hidup bahagia selamanya seperti dongeng putri Disney.
Masa pacaran yang cukup singkat, hanya setahun, tidak cukup untuk membuka sifat Edwan yang sebenarnya. Tak berapa lama setelah menikah, Roosalin sudah menerima penganiayaan yang cukup serius dari suaminya. Tidak hanya fisik, mentalnya juga ikut tertekan, karena ternyata Edwan sangat membatasi geraknya. Semua orang yang bekerja di rumah Pondok Indah itu (satpam, pembantu, sopit) semua bertugas mengawasi Roosalin dan melaporkan keberadaannya pada Edwan. Jika suaminya itu tidak berkenan, ia akan dengan semena-mena memaksa Roosalin pulang. Jika perintahnya dilawan, tangan yang akan bicara.
Roosalin tersiksa lahir batin. Ia lepas dari kehidupan lamanya, keluarganya sendiri dan sahabatnya. Awalnya ia mengalah dan memilih mengikuti kehendak suami dan keluarga konglomeratnya untuk bergaul dengan sesama kaum jetset. Namun, kehidupan orang-orang kaya yang penuh dengan pesta pora, skandal, pengkhianatan, perselingkuhan, membuat Roosalin tidak nyaman.
Perjalanan hidup yang berat terus ia jalani dalam kehidupan rumah tangganya. Walaupun sarat penderitaan dan sangat berliku, akhirnya Roosalin bisa bercerai dari suaminya dan melepaskan hidup dari jeratan keluarga konglomerat Krisantono. Ia pun mulai menatap masa depan dan menata jalan hidupnya bersama kekasihnya yang baru.

Seperti perkiraanku ketika membeli novel ini: ringan. Cocok dibaca sekali jalan. Menurut penilaianku ,tidak ada yang istimewa dari buku ini. Kisahnya standar, gaya bahasanya juga, dan twist-nya tidak terlalu mengejutkan (jika memang itu dimaksudkan sebagai twist). Namun, novel ini cukup enak dibaca (bukan jenis novel jelek, yang bahkan dari gaya menulisnya saja bikin antipati), jadi boleh jika ingin dijadikan salah satu koleksi pengisi waktu luang.
Baca selengkapnya

Jumat, 15 April 2016

Kebahagiaan

Kebahagiaan

Hidup ini dinamis, tidak stagnan, tidak statis.
Tidak hanya perputaran waktunya, tapi juga perubahan diri kita.
Sifat, sikap, watak, karakter, itu semua juga harus berubah seiring berjalannya waktu.
Kenapa aku bilang harus?
Karena kita berhubungan dengan orang lain. Kita tidak bisa hidup sendirian dan akan selalu bersinggungan dengan manusia lain, meskipun kita tak ingin.
Penilaian, persepsi, dan ekspektasi dari orang-orang lain itulah yang mengharuskan kita untuk berubah.
Apakah menjadi lebih baik? Atau semata hanya untuk mengikuti keinginan mereka?
Aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
Semua memang harus dilakukan demi bertahan hidup, suka atau tidak, nyaman atau tidak,

Jika kita berkata, ''Tuhan memang menciptakanku untuk menjadi seperti ini. Sifat dan karakterku memang seperti ini," maka orang-orang lain itu akan dengan semangat menjawab, "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Itu artinya kau malas berubah, tidak mau menerima kritik, dan tidak mau menjadi lebih baik."
Benarkah?
Menjadi lebih baik? Menurut standar dan kacamata siapa? Kalian? 
Tidakkah itu artinya mereka hanya ingin kita menjadi seperti yang mereka inginkan?
Lalu bisakah kita menolak atau lari dari situasi ini? Mungkin tidak, karena kembali lagi, kita bergantung pada orang lain. Kelangsungan hidup kita ditentukan dengan adanya keberadaan orang lain di sekitar kita.
Suka atau tidak, nyaman atau tidak.

Mungkin ada beberapa orang beruntung yang bisa lari dari segala tetek bengek 'penyesuaian dengan orang lain' ini. Mereka bisa lari, berpindah tempat tinggal, dan menjadi diri mereka sendiri.
Ingat novel atau film Perahu Kertas? 
Seperti Keenan, ya, seperti itulah maksudku. 
Apakah memang hidup sebagai pelukis begitu hina dan rendah? Ternyata tidak, dan Keenan ternyata malah sangat bahagia mengikuti suara hatinya. Namun, orang tuanya tidak tahu itu, mereka tidak mau mengerti.

Sayangnya, masih banyak orang lain yang tidak bisa seberuntung itu. Seperti kita mungkin, yang masih terjebak dalam rutinitas dan terbelenggu kata 'harus' dari orang lain.
Hidup harus kerja keras, kalau kamu tidak jadi pekerja, kamu mau makan apa?
Belajar itu harus rajin, pendidikan harus tinggi, setinggi-tingginya, kalau bisa sampai menjadi profesor di luar negeri.
Apakah memang semua itu menjamin kebahagiaan?
Sebenarnya apa esensi kita hidup di dunia, jika terus mengejar dan melakukan sesuatu yang tidak membuat kita bahagia?

Namun, kembali lagi, sayang.
Tidak semua orang beruntung bisa lari dari kenyataan dan mengejar impiannya, mengejar kebahagiaannya.
Sementara mereka-mereka ini menyibukkan diri dengan impian dan standar orang lain.
Mereka, bukan, kita, sibuk membahagiakan orang lain dan lupa dengan kebahagiaan diri kita sendiri.
Baca selengkapnya

Kamis, 26 November 2015

Dari Adonan Biang Sampai ke Terangnya Pikiran

Dari Adonan Biang Sampai ke Terangnya Pikiran

Aku suka menulis.
Aku rasa semua juga tahu itu.
Namun, tidak banyak postingan tentang diri sendiri, atau pemikiranku, dalam blog ini.
Ada alasannya mengapa aku membatasi diri seperti ini.

Sebut aku terlalu banyak berpikir, atau khawatir.
Aku sebenarnya tidak begitu suka masalah dan kehidupan pribadiku diketahui orang banyak karena pasti akan memicu banyak komentar. Aku tidak suka. Aku tidak suka dikomentari (bukan tidak suka dikritik). Komentar tidak ada dasarnya selain pemikiran dan pendapat pribadi orang yang melontarkannya. Komentar tidak akan mengubah kehidupanku, tetapi bisa mempengaruhi pikiranku jika bernada negatif. Ya, intinya aku suka hidup tenang saja, lempeng-lempeng tanpa invasi dari orang lain, bahkan secuil pemikiran mereka.

Kemudian aku juga tidak mau banyak orang meng-copy dan mem-paste hal-hal yang tidak seharusnya. Postingan-postingan tentang kesehatan yang banyak aku tulis memang aku tujukan untuk berbagi ilmu, jadi sah-sah saja digandakan. Namun, jika ada yang melakukan itu pada tulisan pribadiku, atau puisiku, atau pemikiranku (meskipun dalam konteks baik), aku tidak nyaman rasanya. Aku tahu aktivitas di dunia maya ini adalah aktivitas publik. Aku sadar betul bahwa bisa atau tidaknya copy-paste ini terjadi, sepenuhnya kewenanganku. Jika aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak usah memberikan postingan apa-apa. Betul, kan? Simpel, aku tahu, dan aku sudah melakukannya selama ini.

Rencana cadanganku untuk menulis (waktu itu) ialah aku (niatnya) akan kembali aktif menulis di buku harianku. Ya, buku harian. Aku punya buku harian yang sudah mulai kuisi sejak kelas satu SMP, dan kupelihara dengan baik sejak itu. Kegiatan ini terhenti sejak aku memasuki dunia per-koas-an, yang dapat dimaklumi karena saat itu, tidur saja susah, makan apalagi (sambil lari-lari). Waktu luang yang dipunyai selama dua tahun menjadi 'dek koas' itu, jika digabungkan, mungkin masih kurang untuk memenuhi waktu yang dibutuhkan untuk membaca seluruh textbook, buku penunjang, dan ilmu yang seharusnya kumiliki. (Hehehe..)
Sayangnya, rencana indahku untuk melestarikan buku harian setelah masa-masa itu juga ternyata tidak dapat terwujud. Setelah kuliah, langsung menikah. Setelah itu langsung intership dan dimasa itu hamil dan melahirkan. Setelah itu, hari-hari makin full diisi dengan kegiatan bersama Riri-nama anakku.
Selain sulit mencari momennya, lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menulis buku harian juga merupakan masalah. Bagi yang belum pernah melakukan, menulis buku harian dilakukan dengan tangan. Tangan cenderung lebih lambat dari jalannya pikiran. Tangan juga jelas lebih lambat dari kemampuan jari mengetik di atas keyboard, apalagi jika sudah biasa mengetik dengan sepuluh jari. Mengetik bisa menyalurkan pikiran dua hingga tiga kali lebih cepat dari tulisan tangan. Itu semua menurut pengalamanku.
Jadi, untuk menulis buku harian saja, dalam keadaanku yang sekarang, aku sudah merasa lelah dan banyak membuang waktu. Mengetik jauh lebih efektif.

Begitulah dilemaku selama ini.
Aku punya alasan untuk tidak menulis di blog.
Tapi aku tidak melakukan apa yang harusnya kulakukan untuk tetap menulis, sesuai rencana awalku.
Jadilah kondisi stuck selama berbulan-bulan karena konflik di dalam diriku ini tidak kunjung menemukan solusi.
Hingga malam ini.

Aku sedang membaca novel Madre, karya Dee yang terkenal.
Ternyata pergulatan tentang toko roti dan adonan biangnya membawaku pada jawaban yang selama ini kucari.
Sederhana.
Segala hal harus punya penerus. Seseorang harus punya 'sesuatu' untuk bisa diwariskan. Adonan saja memiliki sejarah panjang, yang ternyata sangat patut dilestarikan dari generasi ke generasi.
Lalu aku?
Mengapa aku yang (merasa) memiliki kemampuan untuk melestarikan sejarahku sendiri, dengan menulis, malah mandeg? Berhenti karena alasan yang, memang logis, tapi apakah relevan?
Apakah aku harus membiarkan potensi-potensi cerita dalam keseharianku, entah penting atau tidak (bagi orang lain, bagiku pasti penting karena kutulis) menguap begitu saja? Hanya karena tidak suka dikomentari, tidak suka bersinggungan dan berkonflik dengan orang lain, tidak ingin tulisanku digandakan dan/atau dibagi tanpa izin, dan masih banyak alasan-alasan ringan lainnya?
Apakah sepadan?

Para penulis ternama juga memiliki blog pribadi dan media sosial lain. Mereka nampak bebas menulis apa saja.
Mungkin apa yang aku takutkan juga terjadi pada mereka. Mungkin banyak kejadian copy-meng-copy, dan berbagai masalah lainnya.
Setiap melakukan sesuatu, pasti ada risikonya. Semakin besar hal yang dilakukan, semakin besar penghalangnya. Itu sudah hukum alam.
Namun, jika bisa mengatasi hambatan-hambatan itu, bukankah hasilnya sudah jelas?
Mereka telah berhasil mendokumentasikan sejarah, pemikiran, dan ide mereka.
Itu semua sangat berharga.
Dan, sekali lagi, apakah sepadan dengan risikonya?

Sekarang aku bisa menjawab dengan pasti.
Sepadan!

Baca selengkapnya

Senin, 11 Mei 2015

Pemeriksaan Psikiatri pada Pasien Geriatri

       Berikut contoh pemeriksaan psikiatri pada geriatri dengan menggunakan beberapa metode (berdasarkan kasus)

Geriatric Depression Scale (GDS)
Pertanyaan
Jawaban
Skor
Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda?
Ya
0
Apakah anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenangan anda?
Ya
1
Apakah anda merasa kehidupan kosong?
Ya
1
Apakah anda sering merasa bosan?
Ya
1
Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap saat?
Ya
0
Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda?
Tidak
0
Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup anda?
Ya
0
Apakah anda sering merasa tidak berdaya?
Ya
1
Apakah anda lebih senang tinggal di rumah daripada pergi ke luar dan mengerjakan sesuatu hal yang baru?
Ya
1
Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah dengan daya ingat anda dibandingkan kebanyakan orang?
Tidak
0
Apakah anda pikir bahwa hidup anda sekarang menyenangkan?
Ya
0
Apakah anda merasa tidak berharga seperti perasaan anda kini?
Ya
1
Apakah anda merasa penuh semangat?
Ya
0
Apakah anda merasa bahwa anda tidak ada harapan?
Tidak
0
Apakah anda berpikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya dari anda?
Ya
1
Total
7

GDS
Keterangan
5-9
Kemungkinan besar depresi
≥ 10
Depresi
        Pasien mendapatkan skor GDS sebesar 7 yang berarti kemungkinan besar depresi.
  
Abrreviated Mental Test (AMT)
Pertanyaan
Jawaban
Skor
Umur ...... tahun
Salah
0
Waktu/ jam sekarang
Salah
0
Alamat tempat tinggal
Benar
1
Tahun ini
Salah
0
Saat ini berada di mana
Salah
0
Mengenali orang lain di RS
Benar
1
Tahun kemerdekaan RI
Salah
0
Nama presiden RI
Salah
0
Tahun kelahiran anak terakhir
Salah
0
Menghitung terbalik (20 sampai dengan 1)
Salah
0
Total
Perasaan hati (afek) : Baik
2

AMT
Keterangan
0-3
Gangguan ingatan berat
4-7
Gangguan ingatan sedang
8-10
Normal
         Pada pasien, didapatkan skor AMT sebesar 2 yang artinya kemungkinan terdapat gangguan ingatan berat.
  
Mini Mental Status Examination (MMSE)
Pertanyaan
Skor
ORIENTASI
Sekarang ini (tahun), (musim), (bulan), (tanggal), (hari) apa? (5)
0
Berada di mana? (negara), (propinsi), (kota), (rumah sakit), lantai/kamar) (5)
1
REGISTRASI
Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda: bola, kursi, buku. Kemudian pasien diminta mengulangi nama ketiga objek tadi (3)
2
ATENSI DAN KALKULASI
Mengeja secara terbalik kata “W A H Y U” (5)
0
MENGENAL KEMBALI
Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama objek di atas tadi (3)
0
BAHASA
Pasien disuruh menamai benda, diperlihatkan “pinsil” dan “arloji” (2)
1
Pasien disuruh mengulangi kalimat “jika tidak dan atau tapi” (1)
1
Pasien disuruh melakukan perintah : “Ambil kertas itu dengan tangan anda, lipatlah menjadi 2 dan letakkan di lantai” (3)
0
Pasien disuruh membaca, kemudian melakukan perintah kalimat “Pejamkan mata anda” (1)
0
Pasien disuruh menulis dengan spontan, tulis apa saja (1)
0
Pasien disuruh mengikuti gambar bentuk (1)




0
Total
5
    
         Pasien mendapatkan MMSE dengan skor 5 yang berarti terdapat gangguan fungsi kognitif.
 


Baca selengkapnya